Welcome to My Blog

Jendela Dunia,

Terapan Riwayat Alamiah Penyakit Demam Berdarah Dengue dan Tahap Pencegahannya

pada November 25, 2012

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang terutama menyerang anak-anak. DBD adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan atau syok yang menyebabkan kematian. Penyakit ini selalu terjadi tiap tahun di berbagai tempat di Indonesia terutama pada saat musim hujan.

DBD

say no to DHF

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B, yaitu arthropode-borne virus atau virus yang disebarkan oleh artropoda dan termasuk genus Flavivirus dari famili Flaviridae. Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (di daerah perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah pedesaan). Nyamuk yang menjadi vektor penyakit DBD adalah nyamuk yang menjadi terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya).

Mayoritas kasus DBD dilaporkan dari Asia di mana penyakit ini telah mempengaruhi sebagian besar negara, dan merupakan penyebab utama rawat inap dan kematian di kalangan anak-anak. Dampak DF / DBD terhadap kesehatan masyarakat yang nyata terjadi selama wabah penyakit ini (Gubler, 2002).

Perjalanan penyakit DBD sering sukar diramalkan, karena sebagian penderita dengan renjatan yang berat dapat disembuhkan walaupun hanya dengan pengobatan yang sederhana. Selain itu hal ini juga terjadi karena pengawasan yang minim, sehingga tahap awal penularan epidemi biasanya tidak terdeteksi, dengan kasus yang banyak tidak dilaporkan sampai epidemi ini diakui sebagai demam berdarah, yang biasanya terjadi dekat dengan transmisi puncak; kemudian menjadi terlalu banyak dilaporkan. Keadaan darurat pengendalian nyamuk biasanya dimulai pada waktu tersebut, tetapi upaya ini biasanya salah arah, terlalu sedikit dan terlalu terlambat untuk memiliki berbagai pengaruh pada epidemi (Gubler, 2002). Berikut ini penjelasan tentang riwayat alamiah penyakit deman berdarah dengue beserta tahap-tahap pencegahannya:

  1. Fase suseptibel (rentan)
DBD

Fase Pertumbuhan Nyamuk

Fase suseptibel adalah tahap awal perjalanan penyakit dimulai dari tepaparnya individu yang rentan (suseptibel). Fase suseptibel dari demam berdarah dengue menurut Gurbler et al, dalam sumantri (2008) adalah pada saat nyamuk Aedes aegypti yang tidak infektif kemudian menjadi infektif setelah menggigit manusia yang sakit atau dalam keadaan viremia (masa virus bereplikasi cepat dalam tubuh manusia). Nyamuk Aedes aegyptiyang telah menghisap virus dengue menjadi penular sepanjang hidupnya. Ketika menggigit manusia nyamuk mensekresikan kelenjar saliva melalui proboscis terlebih dahulu agar darah yang akan dihisap tidak membeku. Bersama sekresi saliva inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk antar manusia.

  1. Fase Subklinis (asismtomatis)

Fase sublinis adalah waktu yang diperlukan dari mulai paparan agen kausal hingga timbulnya manifestasi klinis disebut dengan masa inkubasi (penyakit infeksi) atau masa laten (penyakit kronis). Pada fase ini penyakit belum menampakkan tanda dan gejala klinis, atau disebut dengan fase subklinis (asimtomatis). Masa inkubasi ini dapat berlangsung dalam hitungan detik pada reaksi toksik atau hipersensitivitas.

Fase subklinis dari demam berdarah dengue adalah setelah virus dengue masuk bersama air liur nyamuk ke dalam tubuh, virus tersebut kemudian memperbanyak diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah bening untuk kemudian masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Virus ini berada di dalam darah hanya selama 3 hari sejak ditularkan oleh nyamuk. (Lestari, 2007). Pada fase subklinis ini, jumlah trombosit masih normal selama 3 hari pertama (Rena, 2009). Sebagai perlawanan, tubuh akan membentuk antibodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks virus-antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai antigennya. Kompleks antigen-antibodi ini akan melepaskan zat-zat yang merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun. Proses tersebut menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah kapiler. Hal tersebut akan mengakibatkan bocornya sel-sel darah, antara lain trombosit dan eritrosit (Widoyono, 2008). Jika hal ini terjadi, maka penyakit DBD akan memasuki fase klinis dimana sudah mulai ditemukan gejala dan tanda secara klinis adanya suatu penyakit.

Orang yang di dalam tubuhnya terdapat virus dengue tidak semuanya akan sakit demam berdarah dengue. Ada yang mengalami demam ringan dan sembuh dengan sendirinya, atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit.

Tahapan pencegahan yang dapat diterapkan untuk menghindari terjadinya fase suseptibel dan fase subklinis atau yang sering disebut dengan fase prepatogenesis ada dua, yaitu:

  1. Health Promotion, dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

a)      Pendidikan dan Penyuluhan tentang kesehatan pada masyarakat.

DBD

Cara Mnenghindari DBD

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan masyrakat tentang kesehatan. Selain itu juga dilakukan untuk membina peran serta masyarakat melalui berbagai jalur komunikasi dan informasi kepada masyarakat, seperti melalui televisi, radio dan media massa lainnya, kerja bakti dan lomba-lomba yang berkaitan dengan kesehatan di kelurahan atau desa, sekolah atau tempat-tempat umum lainnya.

b)      Memberdayakan kearifan lokal yang ada.

Misalnya kearifan lokal masyarakat di pedesaan yaitu gotong royong. Hal ini jika dilakukan secara rutin tiap minggunya dalam bentuk bersama-sama membersihkan lingkungan sekitar akan sangat berguna untuk meningkatkan status kesehatan.

c)      Perbaikan suplai dan penyimpanan air.

Air sebagai sumber kehidupan memegang peranan yang sangat penting dalam kelanjutan dan kesejahteraan hidup manusia. Permasalahan sanitasi air bersih menjadi salah satu permasalahan kesehatan lingkungan di Indonesia. Oleh karena itu, perbaikan suplai dan penyimpanan air sangat penting untuk dilakukan mengingat permasalahan atau penyakit berupa water borne disease sangat beraneka ragam. Bahkan air juga bisa menjadi tempat hidup dan perkembangbiakan vektor penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD).

d)     Menekan angka pertumbuhan penduduk.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Antonius (2005) dalam Suyasa (2008) bahwa daerah yang terjangkit DBD pada umumnya adalah kota atau wilayah yang padat penduduk. Rumah-rumah yang saling berdekatan memudahkan penularan penyakit ini, mengingat nyamuk Aedes aegypti jarak terbangnya maksimal 200 meter. Hubungan yang baik antar daerah memudahkan penyebaran penyakit ke daerah lain. Selain itu, hal ini juga berkaitan erat dengan mobilitas penduduk yang memudahkan penularan dari satu tempat ke tempat lainnya dan biasanya penyakit menjalar dimulai dari satu sumber penularan kemudian mengikuti lalu lintas penduduk. Hal ini juga didukung oleh pernyataan (Gubler, 2002) bahwa ada banyak faktor yang bertanggung jawab untuk kebangkitan dramatis epidemi DF / DBD pada tahun-tahun dari abad ke-20, namun beberapa di antaranya tidak dipahami dengan baik. Demografis dan perubahan sosial seperti pertumbuhan penduduk, urbanisasi dan transportasi modern memberikan kontribusi besar terhadap kejadian meningkat dan penyebaran geografis aktivitas demam berdarah.

e)      Perbaikan sanitasi lingkungan, tata ruang kota dan kebijakan pemerintah.

Hal ini erat kaitannya dengan pemukiman penduduk, tempat-tempat umum, sarana dan prasarana kota, dan lain-lain. Penataan ruang kota yang baik akan meningkatkan status kesehatan masyarakat setempat. Selain itu sanitasi lingkungan juga harus diperbaiki karena beberapa hal berikut ini:

-          Keberadaan Densitas Aedes aegypti pada Daerah Endemis Demam Berdarah di beberapa daerah menunjukkan bahwa tempat perindukkan nyamuk Aedes aegypti yang paling banyak berupa bak mandi, kemudian diikuti gentong, bak WC, tempayan, ember dan tempat wudhu (Suyasa, 2008).

-          Keberadaan pot tanaman hias. Keberadaan pot tanaman hias di rumah khususnya tanaman hias yang menggunakan media air sebagai pertumbuhan pada kenyataannya terdapat genangan air. Genangan air ini dijadikan sebagai breeding place nyamuk Aedes aegypti.

-          Keberadaan saluran air hujan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Arman (2005) yang menunjukkan adanya hubungan antara keberadaan saluran air hujan dengan endemisitas demam berdarah dengue. Perubahan musim dari kemarau ke penghujan menjadi titik rawan ledakan kasus demam berdarah, apalagi didukung oleh keberadaan saluran air hujan yang dapat menampung genangan air.

-          Keberadaan kontainer. Genangan yang disukai sebagai tempat perindukkan nyamuk ini berupa genangan air yang tertampung di suatu wadah yang biasa disebut kontainer atau tempat penampungan air bukan genangan air di tanah.

  1. 2.    Specific protection
    1. Abatisasi

Program ini secara massal memberikan bubuk abate secara cuma-cuma kepada seluruh rumah, terutama di wilayah yang endemis DBD semasa musim penghujan. Tujuannya agar kalau sampai menetas, jentik nyamuknya mati dan tidak sampai terlanjur menjadi nyamuk dewasa yang akan menambah besar populasinya (Nadesul, 2007). Abitasasi selektif atau larvasidasi selektif, yaitu kegiatan memberikan atau menaburkan larvasida ke dalam penampungan air yang positif terdapat jentik aedes (Widoyono, 2008).

  1. b.      Fogging focus (FF).

Fogging focus adalah kegiatan menyemprot dengan insektisida (malation, losban) untuk membunuh nyamuk dewasa dalam radius 1 RW per 400 rumah per 1 dukuh (Widoyono, 2008). Penyemprotan bisa membahayakan kesehatan jika dilakukan tidak dengan hati-hati. Oleh karena itu, takaran insektisida yang dipakai harus diukur dengan cermat, dan tidak sampai berlebihan (Nadesul, 2007).

  1. Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB)

Pemeriksaan Jentik Berkala adalah kegiatan reguler tiga bulan sekali, dengan cara mengambil sampel 100 rumah/desa/kelurahan. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan cara random atau metode spiral (dengan rumah di tengah sebagai pusatnya) atau metode zig-zag. Dengan kegiatan ini akan didapatkan angka kepadatan jentik atau House Index (HI) (Widoyono, 2008). Pembersihan jentik bisa dilakukan dengan pogram Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), menggunakan ikan, dan larvasidasi. Tidak semua jenis ikan memangsa jentik nyamuk Aedes, hanya ikan jenis gambusia, seperti ikan kepala timah. Selain itu ada beberapa pemangsa jentik nyamuk Aedes yang ada di alam, yaitu burung air, serangga, dan ikan. Namun pemangsa itu sudah semakin langka, sehingga campur tangan manusia memang diperlukan (Nadesul, 2007).

  1. Penggerakan PSN

Kegiatan PSN dengan menguras dan menyikat TPA seperti bak mandi atau WC, drum seminggu sekali, menutup rapat-rapat TPA seperti gentong air atau tempayan, mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan serta mengganti air vas bunga, tempat minum burung seminggu sekali merupakan upaya untuk melakukan PSN DBD. Masyarakat diharapkan rutin melakukan kegiatan tersebut dan pihak pemerintah melakukan pemeriksaan jentik berkala, sehingga pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD dapat berjalan dengan baik.

  1. Pencegahan gigitan nyamuk.

Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan pemakaian kawat kasa, menggunakan kelambu, menggunakan obat nyamuk (bakar, oles), dan tidak melakukan kebiasaan beresiko seperti tidur siang, dan menggantung baju. Pemakaian kasa pada ventilasi yang dilakukan merupakan pencegahan secara fisik terhadap nyamuk yang bertujuan agar nyamuk tidak sampai masuk rumah ataupun kamar tidur.

  1. Pengendalian vektor.

Pengendalian vektor melalui surveilans vektor diatur dalam Kepmenkes No.581 tahun 1992, bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dilakukan secara periodik oleh masyarakat yang dikoordinir oleh RT/RW dalam bentuk PSN dengan pesan inti 3M plus. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi atau penyampaian informasi atau pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam pelaksanaan PSN melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu Metode Communication for Behavioral Impact (COMBI) (Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes RI, 2010).

Vaksin untuk pencegahan terhadap infeksi virus dan obat untuk penyakit DBD belum ada dan masih dalam proses penelitian, sehingga pengendaliannya terutama ditujukan untuk memutus rantai penularan, yaitu dengan pengendalian vektornya. Beberapa metode pengendalian vektor telah banyak diketahui dan digunakan oleh program pengendalian DBD di tingkat pusat dan di daerah yaitu: 1. Manajemen lingkungan, 2. Pengendalian Biologis, 3. Pengendalian Kimiawi, 4. Partisipasi masyarakat, 5. Perlindungan Individu dan 6. Peraturan perundangan.

  1. Fase klinis (proses ekspresi)

Tahap selanjutnya adalah fase klinis yang merupakan tahap ekspresi dari penyakit tersebut. Pada saat ini mulai timbul tanda (sign) dan gejala (symptom) penyakit secara klinis, dan penjamu yang mengalami manifestasi klinis. Gejala klinis paling awal disebut dengan gejala prodromal. Periode waktu untuk mengekspresikan penyakit klinis hingga terjadi hasil akhir penyakit disebut dengan durasi penyakit.

DBD

Gejala dan Tanda DBD

Fase klinis dari demam berdarah dengue ditandai dengan badan yang mengalami gejala demam dengan suhu tinggi antara 39 sampai 40 derajat celcius. Akibat pertempuran antara antibodi dan virus dengue terjadi penurunan kadar trombosit dan bocornya pembuluh darah sehingga membuat plasma darah mengalir ke luar. Penurunan trombosit ini mulai bisa dideteksi pada hari ketiga. Masa kritis penderita demam berdarah berlangusng sesudahnya, yakni pada hari keempat dan kelima. Pada fase ini suhu badan turun dan biasanya diikuti oleh sindrom shock dengue karena perubahan yang tiba-tiba. Muka penderita pun menjadi memerah atau facial flush. Biasanya penderita juga mengalami sakit kepala, tubuh bagian balakang, otot, tulang dan perut (antara pusar dan ulu hati). Tidak jarang diikuti dengan muntah yang berlanjut dan suhu dingin dan lembab pada ujung jari serta kaki (Lestari, 2007). Tersangka DBD akan mengalami demam tinggi yang mendadak terus menerus selama kurang dari seminggu, tidak disertai infeksi saluran pernapasan bagian atas, dan badan lemah dan lesu. Jika ada kedaruratan maka akan muncul tanda-tanda syok, muntah terus menerus, kejang, muntah darah, dan batuk darah sehingga penderita harus segera menjalani rawat inap. Sedangkan jika tidak terjadi kedaruratan, maka perlu dilakukan uji torniket positif dan uji torniket negatif yang berguna untuk melihat permeabillitas pembuluh darah sebagai cara untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya (Arif dkk, 2000).

Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4 derajat, yaitu:

  • Derajat I:  Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu satunya adalah uji tourniquet positif.
  • Derajat II: Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.
  • Derajat III: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.
  • Derajat IV: Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
  1. Fase penyembuhan, kecacatan, atau kematian

Setelah terinfeksi virus dengue maka penderita akan kebal menyeluruh (seumur hidup) terhadap virus dengue yang menyerangya saat itu (misalnya, serotipe 1). Namun hanya mempunyai kekebalan sebagian (selama 6 bulan) terhadap virus dengue lain (serotipe 2, 3, dan 4). Demikian seterusnya sampai akhirnya penderita akan mengalami kekebalan terhadap seluruh serotipe tersebut (Satari, 2004).

Tahap pemulihan bergantung pada penderita dalam melewati fase kritisnya. Tahap pemulihan dapat dilakukan dengan pemberian infus atau transfer trombosit. Bila penderita dapat melewati masa kritisnya maka pada hari keenam dan ketujuh penderita akan berangsur membaik dan kembali normal pada hari ketujuh dan kedelapan, namun apabila penderita tidak dapat melewati masa kritisnya maka akan menimbulkan kematian (Lestari, 2007).

Pencegahan yang dilakukan pada fase klinis dan fase penyembuhan atau yang sering disebut dengan tahap patogenesis  ada tiga, yaitu:

  1. 1.    Early Diagnosis dan Prompt Treatment

Pengendalian penyakit menular akan berjalan efektif kalau penyakit menular yang bersangkutan memiliki metode deteksi dini untuk diagnostik. Menurut Achmadi (2008) dalam Buletin Jendela Epidemiologi Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes RI, 2010, Alat deteksi dini akan sangat efektif pula apabila diikuti dengan pengobatan (prompt treatment) secara dini. Gabungan keduanya yakni –early diagnostic dan prompt treatment, merupakan pendekatan yang amat ampuh untuk mengendalikan penyakit menular.

Konsep ini mengutamakan deteksi dini yakni deteksi virus (antigen) secara dini dengan metode antigen capture (NS1 atau non-structural protein 1) untuk mendeteksi adanya virus dalam tubuh. Deteksi virus bisa dilakukan sehari sebelum penderita menderita demam, hingga virus hilang pada hari ke sembilan. Setelah diketahui ada nya virus, penderita diberi antiviral yang efektif membunuh virus DBD (Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes RI, 2010).

Deteksi dini dilakukan oleh petugas surveilans atau kader dengan mencari kasus DBD secara pro aktif disekitar penderita pertama yang diketahui alamatnya, atau menggunakan petugas yang siaga, dengan mendirikan Pos-pos DBD disetiap RW, atau Kelurahan.

Beberapa metode lain untuk melakukan pencegahan pada tahap Early Diagnosis dan Prompt Treatment antara lain sebagai berikut:

  1. Pelacakan penderita. Pelacakan penderita (penyelidikan epidemiologis) yaitu kegiatan mendatangi rumah-rumah dari kasus yang dilaporkan (indeks kasus) untuk mencari penderita lain dan memeriksa angka jentik dalam radius ±100 m dari rumah indeks (Widoyono, 2008).
  2. Penemuan dan pertolongan penderita, yaitu kegiatan mencari penderita lain. Jika terdapat tersangka kasus DBD maka harus segera dilakukan penanganan kasus termasuk merujuk ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) terdekat (Widoyono, 2008).
  3. Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium penting dan bermanfaat untuk mengetahui beberapa hal. Pertama, dapat lebih dini mengetahui benar ada infeksi virus dengue. Kedua, sudah seberapa parah penyakitnya berlangsung, apa sedang terancam syok, dan tindakan medis apa yang perlu segera dilakukan. Ketiga, untuk memonitor apakah penyakitnya sudah dalam proses menyembuh (Nadesul, 2007). Selain itu dengan melakukan pemeriksaan darah berkala, sekurang-kurangnya setiap 4-6 jam dapat diketahui pasien DBD masih dalam stadium yang ringan atau sudah stadium berat. Pemeriksaan juga dilakukan pada bagian hati penderita. Hati yang lunak menjadi tanda penderita demam berdarah mendekati fase kritis. Selain itu, pemeriksaan laboratorium  akan dilakukan pada hari ketiga, kelima, dan selanjutnya untuk mengetahui keadaan penderita secara lebih pasti. Berikut ini beberapa pemeriksaan darah yang mungkin dilakukan pada penderita DBD:

-       Pemeriksaan darah tepi untuk mengetahui jumlah leukosit. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengantisipasi terjadinya leukopenia.

-       Pemeriksaan limfosit atipikal (sel darah putih yang muncul pada infeksi virus). Jika terjadi peningatan, mengindikasikan dalam waktu kurang lebih 24 jam penderita akan bebas demam dan memasuki fase kritis.

-       Pemeriksaan trombositopenia dan trombosit. Jika terjadi penurunan jumlah keduanya, mengindikasikan penderita DBD memasuki fase kritis dan memerlukan perawatan ketat di rumah sakit (Satari, 2004).

  1. Pengobatan penderita demam berdarah dapat dilakukan dengan cara:

-       Pemberian cairan yang cukup untuk mengurangi rasa haus dan dehidrasi akibat dari demam tinggi, anoreksia, dan muntah. Penderita diberi minum sebanyak 1, 5- 2 liter dalam 24 jam.

-       Antipiretik, seperti golongan Acetaminofen (parasetamol) dan jangan diberikan golongan salisilat karena dapat menyebabkan bertambahnya perdarahan.

-       Surface cooling

-       Antikonvulsan.

-       Pada penderita kejang dapat diberikan diazepam (valium) dan fenobarbital (luminal) (Rampengan, 2008).

Secara universal belum ditemukan adanya vaksin sebagai alat pencegahan penyakit demam dengue maupun demam dengue berdarah ini (Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes RI, 2010). Riset masih dalam progress untuk mengembangkan vaksin dengue tetravalent yang efektif dan aman. Dalam keadaan tidak adanya vaksin dengue untuk kesehatan masyarakat pada saat sekarang, pencegahan dan pertahananoutbreak dengue akan menjadi pengendalian vektor jangka panjang yang efektif dengan partisipasi komunitas dan surveilans epidemiologi yang agresif.

  1. 2.    Disability Limitation

Pembatasan kecacatan yang dilakukan adalah untuk menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan suatu penyakit. Dampak dari penyakit DBD yang tidak segera diatasi, antara lain:

-       Paru-paru basah. Hal ini bisa terjadi karena cairan plasma merembes keluar dari pembuluh, ruang-ruang tubuh, seperti di antara selaput paru (pleura) juga terjadi penumpukan. Pada anak-anak sering terjadi bendungan cairan pada selubung paru-parunya (pleural effusion).

-       Komplikasi pada mata, otak, dan buah zakar. Pada mata dapat terjadi kelumpuhan saraf bola mata, sehingga mungkin nantinya akan terjadi kejulingan atau bisa juga terjadi peradangan pada tirai mata (iris) kalau bukan pada kornea yang berakhir dengan gangguan penglihatan. Peradangan pada otak bisa menyisakan kelumpuhan atau gangguan saraf lainnya (Nadesul, 2007).

Umumnya penyakit DBD berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Oleh karena itu, sebagian besar penderita DBD tidak menunjukkan gejala sisa. Komplikasi pada penderita DBD misalnya perdarahan paru dan sepsis. Jika virus dengue menyerang otak, dan tergolong ganas serta daya tahan tubuh penderita rendah, kerusakan daerah otak cukup luas. Oleh karena itu, mungkin dapat meninggalkan gejala sisa. Namun, keadaan ini jarang terjadi (Satari, 2004). Selain itu, jika keadaan penderita bertambah parah atau akibat jumlah cairan yang masuk tidak memadai maka penderita akan memasuki fase syok. Perdarahan yang tak terkontrol dari berbgaai organ tubuh yang sulit dihentikan juga dapat terjadi sebagai akibat terjadinya gangguan pembekuan darah secara menyeluruh. Ketika sudah mengalami perdarahan menunjukkan bahwa kegawatan penyakitnya sudah masuk dalam derajat II yang merupakan satu tingkat di bawah fase DDS (Dengue Shock Syndrome). Fase DDS merupakan kondisi paling parah atau stadium akhir dari infeksi virus dengue ini. Jika seorang penderita DBD sudah masuk dalam fase ini, maka risiko kematian yang mengancamnya menjadi cukup besar. Bahkan, kalaupun penderita berhasil lolos dari fase ini, besar kemungkinan pula ia akan mengalami kecacatan akibat kegagalan salah satu atau beberapa fungsi organnya, mulai dari otak, ginjal, hingga hati.

Pembatasan kecacatan dapat dilakukan dengan pengobatan dan perawatan. Obat-obatan yang diberikan kepada pasien DBD hanya bersifat meringankan keluhan dan gejalanya semata. Obat demam, obat mual, dan vitamin tak begitu besar peranannya untuk meredakan penyakitnya. Jauh lebih penting upaya pemberian cairan atau tranfusi darah, tranfusi sel trombosit, atau pemberian cairan plasma. Pada tubuh pasien DBD yang terjadi adalah darah mengalami kehilangan plasma. Plasma merembes keluar pembuluh darah. Pada tingkat kekentalan tertentu, sirkulasi terganggu. Infus cairan mencegah terjadinya kegagalan sirkulasi, sehingga syok yang timbul dapat dicegah (Nadesul, 2007).

  1. 3.  Rehabilitation

Setelah sembuh dari penyakit demam berdarah dengue, kadang-kadang orang menjadi cacat, untuk memulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang diperlukan latihan tertentu. Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak akan segan melakukan latihan-latihan yang dianjurkan. Disamping itu oorang yang cacat setelah sembuh dari penyakit, kadang-kadang malu untuk kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggoota masyarakat yang normal. Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga perlu pendidikan kesehatan pada  masyarakat. Rehabilitasi pada penderita DBD yang mengalami kelumpuhan saraf mata yang menyebabkan kejulingan terdiri atas:

  1. Rehabilitasi fisik, yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimal-maksimalnya. Misalnya dengan donor mata agar saraf mata dapat berfungsi dengan normal kembali.
  2. Rehabilitasi mental, yaitu agar bekas penderita dapat menyesuaikan diri dalam hubungan perorangan dan sosial secara memuaskan. Seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badaniah muncul pula kelainan-kelainan atau gangguan mental. Untuk hal ini bekas penderita perlu mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelum kembali ke dalam masyarakat.
  3. Rehabilitasi sosial vokasional, yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan atau jabatan dalam masyarakat dengan kapasitas kerja yang semaksimal-maksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidak mampuannya.
  4. Rehabilitasi aesthesis, perlu dilakukan untuk mengembalikan rasa keindahan, walaupun kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya dengan menggunakan mata palsu.

Daftar Pustaka

Arif, Mansjoer dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Gubler, Duane J. 2002. Epidemic Dengue/Dengue Hemorrhagic Fever as A Public Health, Social, and Economic Problem in The 21st Century. TRENDS in Microbiology Vol. 10 No.2 February 2002. Page 100-103.

Lestari, Keri. 2007. Epidemiologi Dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Farmaka, Vol. 5 No. 3, Desember 2007. Jatinangor: Fakultas Farmasi Universitas Padjadajaran.

Nadesul, Hendrawan. 2007. Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes RI. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi: Topik Utama ‘Demam Berdarah Dengue’. Volume 2, Agustus 2010. ISSN-2087-1546.

Rampengan, T.H dan Laurenzt I.R. 2008. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara.

Rena, Ni Made Renny a, dkk. 2009. Kelainan Hematologi pada Demam Berdarah Dengue. J Peny Dalam, Volume 10 Nomor 3 September 2009. Denpasar: FK Unud RSUP Sanglah Denpasar.

Satari, Hindra I dan Meiliasari, Mila. 2004. Demam Berdarah: Perawatan di Rumah dan Rumah Sakit plus Menu. Jakarta: Puspa Swara.

Sumantri, Arif. 2008. Model Pencegahan Berbasis Lingkungan terhadap Penyebaran Penyakit Demam Berdarah Dengue di Provinsi DKI Jakarta. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Suyasa, dkk. 2008. Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat dengan Keberadaan Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Selatan. Ecotrophic 3(1):1-6. ISSN: 1907-5626.

WHO. 1999. Demam Berdarah Dengue: Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, dan Pengendalian. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya. Jakarta:Erlangga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.302 pengikut lainnya.