JURNAL SANTRI UNTUK NEGERI

Jendela Dunia

Permasalahan Lingkungan di Kabupaten Tegal dan Solusinya

pada November 20, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  Latar Belakang

Kesehatan lingkungan merupakan faktor penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan merupakan salah satu unsur penentu atau determinan dalam kesejahteraan penduduk. Lingkungan yang sehat sangat dibutuhkan bukan hanya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk kenyamanan hidup dan meningkatkan efisiensi kerja dan belajar.

Definisi kesehatan lingkungan menurut WHO (World Health Organization) adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak pernah lepas dari lingkungan. Aktivitas manusia dipengaruhi oleh lingkungan sebagai penunjang kehidupan, baik lingkungan fisik, biologis, ataupun lingkungan sosial. Hubungan interaksi antara manusia dan lingkungan jika tidak berjalan dengan baik dan seimbang akan menimbulkan bahaya lingkungan yang selanjutnya menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan kesehatan lingkungan. Pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan sangat penting agar dapat menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpada dan tuntas. Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai akhir hidupnya. Permasalahan kesehatan lingkungan yang terdapat di Indonesia yaitu urbanisasi penduduk, tempat pembuangan sampah, penyediaan sarana air bersih, pencemaran udara, pembuangan limbah industri dan rumah tangga, dan bencana alam atua pengungsian serta perencanaan tata kota dan kebijakan pemerintah (Chandra, 2006).

Perkembangan kota yang cepat membawa dampak pada masalah lingkungan. Perilaku manusia terhadap lingkungan akan menentukan wajah kota, sebaliknya lingkungan juga akan mempengaruhi perilaku manusia. Lingkungan yang bersih akan meningkatkan kualitas hidup (Alkadri et al, 1999 : 159). Perkembangan kota akan diikuti dengan pertambahan jumlah penduduk, yang juga akan berakibat pada masalah-masalah sosial dan lingkungan. Salah satu masalah lingkungan yang muncul adalah masalah persampahan. Permasalahan lingkungan yang terjadi akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.

  1. B.  Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Tegal dan mencari solusi penyelesaian yang tepat baik yang sudah pernah dilakukan ataupun yang akan dilakukan.

BAB II

PEMBAHASAN

Kabupaten Tegal adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Slawi, sekitar 14 km sebelah selatan Kota Tegal. Bagian utara wilayah Kabupaten Tegal merupakan dataran rendah. Di sebelah selatan merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Slamet (3.428 meter), gunung tertinggi di Jawa Tengah. Di perbatasan dengan Kabupaten Pemalang, terdapat rangkaian perbukitan yang tidak terlalu terjal.

Kategori atau karakteristik daerah yang terdiri dari 3 macam, yaitu dataran pantai, rendah, dan tinggi menjadikan Kabupaten Tegal memiliki kondisi lingkungan yang beraneka ragam dan unik. Keanekaragaman kondisi wilayah Kabupaten Tegal mempengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini dapat dilihat dari mata pencaharian penduduk Kabupaten Tegal yang bervariasi sesuai dengan kondisi daerah tempat tinggalnya. Oleh karena itu, permalasahan kesehatan lingkungan baik sebagai dampak dari aktivitas manusia ataupun aktivitas alam juga sangat beraneka ragam.

Permasalahan kesehatan lingkungan yang terdapat di Kabupaten Tegal yaitu sanitasi air bersih, persampahan, pencemaran udara, dan pembuangan limbah industri.

  1. Sanitasi Air Bersih

Di Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal sumber air bersih sudah semakin sulit ditemukan. Hal ini dikarenakan sumber air tanah yang ada sudah tercemar, baik karena limbah industri keluarga atau pun limbah rumah tangga. Limbah industri keluarga, misalnya pewarna pakaian yang merupakan mata pencaharian pokok masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Adiwerna. Limbah industri ini banyak yang dibuang lewat saluran air selokan yang ada di depan rumah dan tidak diolah dengan baik. Limbah industri memang dialirkan ke sungai terdekat yang akhirnya bermuara di laut jawa, namun proses perawatan saluran air yang ada di Kecamatan ini masih sangat kurang yang berdampak pada tercemarnya sumber air tanah yang ada yang lebih lanjut dikhawatirkan akan menimbulkan wabah penyakit atau yang sering disebut water borne disease. Padahal sumber air tanah yang ada digunakan masyarakat setempat sebagai air minum dan juga untuk keperluan lain sehari-harinya.

Pencemaran air juga di sebabkan karena tingginya kadar coli tinja pada sungai besar di Kabupaten Tegal yaitu sungai gung. Batas normal kadar coli tinja yang seharusnya 200 bakteri / 100 mm, data dari Kapedal (Kepala Kantor Dampak Lingkungan Hidup) Kota Tegal tahun 2004 menunjukkan kadar coli tinja sungai gong berkisar 9000-17000 bakteri / 100 mm. Tingginya kadar coli tinja di sungai itu disebabkan oleh pola hidup masyarakat yang tidak sehat, tidak memiliki jamban keluarga dan kebiasaan buang air besar di sungai. Pencemaran air ini akan berdampak pada air sungai yang merembes ke sumur penduduk, terutama yang jaraknya kurang dari 10 m, sehingga sumur akan tercemar apalagi di musim penghujan tingkat rembesan ke sumur penduduk semakin tinggi. Tingginya kadar coli tinja merupakan salah satu penyebab penyakit diare yang semakin marak di Kabupaten Tegal.  Hal ini disebabkan dalam coli tinja tersebut terdapat banyak bakteri Escherichia coli yaitu bakteri patogen yang bersifat komersal di dalam saluran pencernaan manusia dan hewan.

Selain pencemaran oleh coli tinja, sungai di Kabupaten Tegal mulai tercemar oleh logam berat seperti seng, tembaga dan kaleng karena industri logam merupakan industri rakyat terbesar di Kabupaten Tegal, salah satunya di Desa Kebasen, Kecamatan Talang. Pengelolaan limbahnya belum baik, apabila air sungai yang terkena limbah masuk ke sungai dan sampai ke laut sehingga mencemari habitat ikan yang dikonsumsi penduduk yang dikhawatirkan akan menyebabkan gangguan kesehatan.

Ratusan sumur warga desa Pesarean, Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, juga tercemari limbah pengolahan logam yang berada tak jauh dari pemukiman warga. Akibatnya, untuk kebutuhan sehari-hari warga terpaksa menggunakan air ledeng milik PDAM karena air sumur yang tidak dapat digunakan lagi. Banyak warga yang mengeluhkan kondisi air sumurnya mulai berubah sejak tercemar limbah pengolahan logam dan pelebuaran Aki. Keluhan yang sering dilaporkan warga diantaranya air yang semula jernih tiba-tiba berubah warna dan beraroma tidak sedap, jika dimasak airnya berbuih dan berasa anyir, air di sumur menjadi bau, berminyak dan terasa lengket.

Solusi sudah ada dan akan segera direalisasikan yaitu pembuatan PDAM di Obyek Wisata Guci yang langsung bersumber dari mata air Gunung Slamet. PDAM yang akan dibuat ini rencananya tidak hanya dialirkan untuk  Kabupaten Tegal, tapi juga untuk Kota atau Kabupaten sekitarnya, meliputi Kabupaten Brebes, Kota Tegal, dan Pemalang. Selain solusi yang dikeluarkan dari pemerintah daerah, pemerintah pusat Indonesia juga sudah mengadakan Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional 2011 pada tanggal 11-13 Oktober 2011 di Jakarta yang juga didukung oleh IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene). Konferensi tiga hari tersebut mengkaji berbagai cara untuk mengatasi masalah sanitasi dan memastikan akses air minum, serta sinergi menggiatkan sektor air minum dan sanitasi tingkat lokal dan nasional (IUWASH news, 2012).

Menurut saya ada 3 langkah strategis yang harus diambil oleh pemerintah daerah untuk mengatasi masalah air bersih dan sanitasi, yaitu:

–       Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Pemerintah sebaiknya terus menggalakkan upaya penumbuhan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Hal itu sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah melalui program PHBS, yaitu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang mengupayakan untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau dan mampu melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang sebaiknya lebih dimulai dari dini. Mulai dari hal-hal kecil seperti mencuci tangan sebelum makan, gosok gigi dua kali sehari, dan lainnya. PHBS seharusnya juga tidak hanya diberikan kepada anak-anak. Orang tua pun juga perlu diberi pengetahuan tentang ini. Sebab, orang tua-lah yang membentuk pribadi dan perilaku anak tersebut. Selain itu, instansi – instansi pemerintah setempat, masyarakat, pendidikan dan lainnya juga harus diberi penyuluhan tentang ini. Dengan begitu, fasilitas di lembaga mereka tentu harus memenuhi standar, bahkan di atas standar. Misal fasilitas tempat cuci tangan yang memadai serta fasilitas MCK yang bersih dan layak dan juga pemerataan tempat sampah di seluruh tempat, mulai dari rumah tangga sampai tempat-tempat umum. Namun, yang perlu diperhatikan adalah apakah sosialasi program yang ada sudah menyebar secara rata di seluruh kecamatan atau daerah di Kabupaten Tegal atau belum.

–       Menaikkan anggaran

Langkah kedua yang harus dilaksanakan, setelah kesadaran masyarakat dapat ditumbuhkan, maka pemerintah menaikkan anggaran untuk meningkatkan fasilitas untuk mengakses air bersih serta sanitasi yang layak. Berdasarkan data yang telah saya tulis di atas, rata-rata daerah di Indonesia masih mengalokasikan 1,5% dari APBD-nya untuk pembangunan di bidang sanitasi. Hal itu tentu sangat kecil, dan seharusnya bisa ditambah untuk tahun-tahun ke depannya.

–       Menjalin kerja sama

Apabila di rasa APBD telah mencapai titik maksimum, sehingga tidak dapat dinaikkan lagi, pemerintah juga dapat menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional yang berkaitan dengan hal ini. Misalnya lembaga PBB, seperti WHO atau lembaga-lembaga yang lain. Di tingkat nasional, langkah Danone untuk membantu ketersediaan air bersih di NTT patut diacungi jempol.

  1. 2.    Pencemaran Udara

Pencemaran udara di beberapa Kecamatan di Kabupaten Tegal karena semakin banyak ditemukan. Pencemaran udara yang terjadi disebabkan oleh aktivitas sehari-hari masyarakat dan karena lingkungan itu sendiri. Aktivitas manusia yang menyebabkan pencemaran udara yaitu kegiatan produksi baju yang menghasilkan debu konveksi di Kecamatan Adiwerna, pengolahan batu gamping atau kapur di Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, dan penebangan pohon untuk lahan industri atau pemukiman serta hujan abu akibat aktivitas gunung Slamet yang meliputi beberapa daerah di Kabupaten Tegal bagian selatan.

Pekerjaan masyarakat Kecamatan Adiwerna yang mayoritas adalah konveksi menyebabkan udara menjadi tercemar. Hal ini dikarenakan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat baju menghasilkan debu-debu atau partikel kecil yang berterbangan di udara yang lebih lanjut dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA. Berdasarkan data dari Kecamatan Adiwerna dalam angka tahun 2011, ISPA merupakan salah satu penyakit yang paling sering dilaporkan di Puskesmas Adiwerna dengan jumlah 27.407. Hal ini sangat mungkin terjadi karena sebagian besar rumah untuk tempat tinggal masyarakat Kecamatan Adiwerna dengan rumah untuk memproduksi baju masih jadi satu. Selain itu, semakin jarangnya pepohonan yang ditemukan di Kecamatan ini juga memperparah pencemaran udara yang terjadi. Hal ini tak lain disebabkan oleh pemukiman penduduk yang semakin padat dan membutuhkan lahan yang lebih luas untuk membangun rumah sehingga penebangan pohon atau penggusuran lahan pertanian.

Pengolahan batu kapur merupakan salah satu sumber pencemaran udara, dengan hasil yang ditimbulkan berupa gas seperti: CO2, CO, dan partikel debu. Partikel debu batu kapur ini dapat mengganggu kesehatan bila tertiup manusia, antara lain dapat mengganggu pernapasan, seperti sesak napas. Dampak negatif yang paling sering dirasakan secara lain adalah pencemaran udara dari cerobong asap tobong pembakar kapur. Bahan bakar yang digunakan untuk membakar kapur kebanyakan menggunakan blotong atau ersit, yaitu residu dari sisa-sisa proses pabrik kimia yang dapat menimbulkan rasa perih di mata dan sesak napas ketika menghirup asapnya dan jika tersentuh kulit secara langsung akan terasa terbakar (Setiardi, 2005). Hasil pemeriksaan kapasitas fungsi paru pekerja pembakaran kapur di Desa Karangdawa oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal tahun 2005, sebanyak 102 orang (49,76%) kapasitas fungsi parunya tidak normal (Puskesmas Margasari, 2005)

Solusi yang sudah diterapkan oleh sebagian masyarakat yaitu memisahkan tempat tinggal dan tempat usaha produksi baju, menciptakan lingkungan tempat kerja yang aman dan sehat yaitu pengaturan suhu ruang dan cahaya serta udara agar debu konveksi tidak terpusat di satu tempat. Selain itu rencana yang sudah dilakukan untuk mengatasi pencemaran batu kapur yaitu pemeriksaan gratis pada masyarakat sekitar tempat pengolahan batu kapur setiap tahun oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal dan pelayanan pengobatan di Puskesmas Pembantu Desa Karangdawa secara gratis, relokasi industri batu kapur ke sentra industri kapur di dekat penambangan batu kapur Dukuh  Apu, pembuatan bak penampung permanen oleh pemilik tungku pembakar dari batu bata di ruang beratap untuk penanganan limbah oli bekas,

Solusi yang dapat diterapkan dengan pembuatan kebijakan khusus tentang pengolahan batu kapur di Desa Karangdawa yang selama ini hanya diatur secara umum dalam peraturan Daerah Kabupaten Tegal No.4 tahun 2002 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kabupaten Tegal; pengadaan penanganan limbah pengolahan batu kapur berupa asap atau debu, pelengkapan semua tungku pembakaran batu kapur dengan filter penangkap debu yang pernah diujicoba oleh Dinas Perindustrian pada tahun 2005; menggunakan bahan bakar yang sedikit menimbulkan dampak terhadap lingkungan; mendesign perletakan pembakaran batu kapur beserta pengolahan limbahnya secara sederhana; mencari alternatif pengolahan batu kapur lain seperti jenis tungku pembakaran dengan menggunakan bahan bakar batu bara; pemerintah melakukan penanganan atau pengelolaan terhadap dampak lingkungan yang terjadi berupa pembuatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Unit Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) atau penanganan dampak secara sederhana; kerjasama antara Pemerintah dan perbankan untuk turut membantu memberikan pinjaman lunak kepada pemilik tungku untuk merelokasi tungku miliknya ke tempat yang telah ada dan guna mengganti atau memodifikasi ulang tungku pembakaran batu kapur yang ramah lingkungan; dan kerjasama pemerintah dengan dinas atau instansi terkait dan masyarakat serta pemilik tungku untuk melakukan reboisasi dengan menanam pohon di sekitar tungku pembakaran.

  1. Persampahan.

Persampahan merupakan isu penting dalam masalah lingkungan perkotaan yang dihadapi sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas pembangunan. Peningkatan volume sampah berkembang secara eksponensial yang belum dibarengi dengan peningkatan pendapatan Pemerintah Daerah yang sepadan untuk pengelolaan sampah kota. Sampah akan menjadi beban bumi, artinya ada resiko-resiko yang akan ditimbulkannya (Hadi, 2000). Ketidakpedulian terhadap permasalahan pengelolaan sampah berakibat terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang tidak memberikan kenyamanan untuk hidup sehingga akan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat. Degradasi tersebut lebih terpicu oleh pola perilaku masyarakat yang tidak ramah lingkungan seperti membuang sampah di badan air sehingga sampah akan menumpuk di saluran air yang ada dan menimbulkan berbagai masalah turunan lainnya.

Sampah padat, salah satu jenis sampah merupakan material yang terus menerus meningkat dan dibuang oleh masyarakat. Sampah adalah segala bentuk limbah yang ditimbulkan dari kegiatan manusia maupun binatang yang biasanya berbentuk padat dan secara umum sudah dibuang, tidak bermanfaat atau tidak dibutuhkan lagi (Theisen, 1997).

Berdasarkan data dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Tegal tahun 2005-2025, Produksi sampah pada tahun 2004 rata-rata sebanyak 345 m3/hari, dengan sampah yang terangkat atau tertangani sebanyak  248,81 m3/hari (72,12 %). Sebagian besar produksi sampah berasal dari sampah pasar (142,47 m3/hari) dan permukiman 108,90 m3/hari). Dari volume sampah tersebut. 46,20 % merupakan sampah berupa daun dan 34,15 % merupakan sampah berupa karet atau plastik. Produksi sampah ini akan terus meningkat jumlahnya seiring dengan semakin bertambah banyaknya penduduk.

Masyarakat Kabupaten Tegal masih banyak yang tidak mengetahui bagaimana cara mengelola sampah rumah tangga yang ada. Banyak dari mereka yang menumpuk sampah-sampah yang ada sampai menggunung dan setelah itu membakarnya, dan banyak pula yang membiarkannya sampai dipenuhi oleh lalat, bahkan tak jarang pula sampah yang ikut terbawa saat musim hujan dan menyebabkan air selokan meluap.

Menurut Gelbert dkk (1996:46-48), jika sampah tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan, yaitu :

  1. Dampak Terhadap Kesehatan.

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut (Gelbert dkk 1996 : 46-48) :

–       Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum.

–       Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).

–       Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.

  1. Dampak Terhadap Lingkungan

Cairan rembesan sampah (lindi) yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak (Gelbert dkk., 1996).

Masalah-masalah pengelolaan sampah yang dapat saya tangkap dari keadaan lingkungan sekitar saya antara lain:

–       Volume sampah yang semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk Kabupaten Tegal.

–       Biaya operasional pengelolaan sampah yang semakin meningkat. Sementara pendapatan dalam bentuk retribusi masih sangat kecil dan tidak sebanding dengan besaran anggaran yang digunakan untuk pengelolaan sampah.

–       Sarana dan prasarana yang kurang memadai

–       Partisipasi masyarakat yang masih rendah. Parisipasi masyarakat masih rendah, terutama dalam sub sistem teknis operasional. Masih sedikit masyarakat yang mau mengelola sampahnya ditingkat sumber (rumah tangga).

–       Belum memiliki teknik pengolahan sampah. Selama ini masih menggunakan teknik open dumping yang merupakan sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang atau menimbun sampah disuatu tempat  tanpa ada perlakukan khusus atau pengolahan sehingga sistem ini sering menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan.

Solusi yang sudah diterapkan untuk mengatasi permasalahan sampah di Kabupaten Tegal yaitu penarikan biaya retribusi sampah tiap bulannya pada seluruh rumah warga yang menghasilkan sampah rumah tangga dan pengambilan sampah oleh petugas yang dilakukan secara periodik yaitu tiga hari sekali. Namun solusi yang sudah ada ternyata tidak dapat memecahkan permasalahan sampah yang terjadi di Kabupaten Tegal, apalagi ketika musim hujan dimana sampah-sampah yang ada di rumah warga tidak diambil oleh petugas secara rutin, bahkan bisa sampai satu minggu kemudian ketika sampah sudah membusuk dan menimbulkan bau tidak enak serta menjadi sarang lalat baru diambil oleh petugas. Selain dari ketidakdisiplinan petugas sampah, rendahnya kesadaran warga dan peran serta dalam menjaga kesehatan lingkungan salah satunya adalah dengan secara aktif membuang atau mengolah sampah rumah tangga yang dihasilkannya juga turut memperparah permasalahan sampah yang terjadi di Kabupaten Tegal. Oleh karena itu, diperlukan solusi lainnya yang lebih efektif dan efisien untuk mengatasi permasalahan sampah, antara lain:

–       Memperbaiki sistem Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

–       Pengembangan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah regional di Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal.

–       Pembangunan Tempat Pemrosesan Sementara (TPS) sampah di setiap Kelurahan atau kecamatan.

–       Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir Sampah.

–       Pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat akan pentingya menjaga kesehatan lingkungan yang dilakukan dengan cara penyuluhan atau bentuk promosi kesehatan yang lainnya.

–       Disiplin kerja yang tinggi dalam diri petugas pengambil sampah. Hal ini dapat diperoleh dengan memberikan upah yang layak dan sepadan dengan jasa yang diberikannya.

–       Meningkatkan peran serta masyarakat yang sangat mendukung program pengelolaan sampah suatu wilayah. Peran serta masyarakat dalam bidang persampahan adalah proses dimana orang sebagai konsumen sekaligus produsen pelayanan persampahan dan sebagai warga mempengaruhi kualitas dan kelancaran prasarana yang tersedia untuk mereka. Peran serta masyarakat penting karena peran serta merupakan alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi,  kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, masyarakat lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaan (LP3B Buleleng-CleanUp Bali, 2003). Bentuk peran serta masyarakat dalam penanganan atau pembuangan sampah antara lain pengetahuan tentang sampah atau kebersihan, rutinitas pembayaran retribusi sampah, dan adanya iuran sampah RT/RW/Kelurahan.

  1. 4.    Pencemaran Limbah Industri
    1. Pencemaran Limbah Industri Logam

Pencemaran limbah industri logam terutama pada industri peleburan aki di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yang dinilai sangat parah. Selain mencemari lingkungan, limbah itu juga telah berdampak buruk pada masalah kesehatan masyarakat di sekitarnya. Limbah pengolahan limbah yang berupa serbuk hanya dibuang di sekitar pemukiman. Selain menimbulkan debu dan terhirup manusia, limbah juga meresap ke dalam tanah, dan mencemari air warga. Masyarakat di wilayah itu banyak yang terkena penyakit pernafasan.

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal, tumpukan limbah telah mencapai 10.000 ton. Sementara itu berdasarkan data yang diperoleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan terdapat lima anak di kawasan peleburan aki ini yang lahir dalam kondisi cacat (lumpuh dan keterbelakangan mental). Dari segi fisik lingkungan, banyak tanaman yang mati akibat terkena limbah.

Pencemaran limbah yang ada di kawasan tersebut sudah termasuk dalam kategori parah. Hal itu antara lain terlihat dari hasil pengujian sampel darah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan itu. Dari hasil uji sampel daerah yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jateng tahun 2011 terhadap 50 warga Desa Pesarean, tercatat sebanyak 46 orang telah tercemar timbal. Dari jumlah tersebut, 12 orang dalam kondisi bahaya.

Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal dinyatakan sebagai daerah beracun. Kondisi tanah dan udara sudah sangat tercemar racun berat dari bahan baku berbahaya Logam Timbal. Bahkan dari hasil uji laboraturium dinas lingkungan hidup kebersihan dan pertamanan Kabupaten Tegal, telah ditemukan kadar Sulfida (SO2). Debu dan timbalnya sudah diatas baku mutu yang ditetapkan. Selain tercemar timbal, akibat usaha peleburan Aki juga menyebabkan wilayah di sekitar tercemar limbah cair asam sulfat (H2S04). Bahkan kini udara di kawasan tersebut sudah mengandung polusi dari bau sulfur yang tajam menyengat.

Adapun solusi yang telah diterapkan oleh pemerintah adalah dengan memindahkan para pelaku usaha  di kawasan itu ke dalam Perkampungan Industri Kecil (PIK), yang jauh dari permukiman. Dari 30 pelaku usaha, sekitar 27 orang sudah bersedia pindah. Saat ini, upaya yang dilakukan yaitu memindahkan tiga orang yang tersisa, serta memulihkan lingkungan yang telah tercemar limbah. Selain itu BBPT telah merumuskan strategi penanganan limbah dan strategi pemulihan lingkungan. Rumusan strategi tersebut akan didiskusikan dengan masyarakat dan pelaku usaha di Desa Pesarean, sebelum menjadi strategi penanganan limbah dan pemulihan lingkungan. Namun solusi yang telah ada belum dapat menyelesaikan masalah, sehingga perlu solusi lain untuk menghasilkan usaha yang produktif, tetapi tetap sehat dan tidak membahayakan lingkungan. Hal ini dikarenakan permasalahan limbah industri merupakan masalah kompleks, karena menyangkut masalah sosial, teknologi, dan lingkungan. Sehingga diperlukan solusi yang lain antara lain penempatan lokasi usaha yang jauh dari pemukiman penduduk, meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama para pekerja akan bahaya dan dampak limbah terhadap kesehatan serta cara mengatasinya, peraturan pemerintah tentang industri logam yang jelas dan tegas, dan menemukan cara atau metode pengolahan limbah lumpur aki bekas yang tepat guna dan tepat tujuan. Lumpur aki bekas tergolong limbah B3, selama ini diolah menjadis enyawa timbal dengan proses peleburan reduksi. Cara ini dapat mencemari lingkungan karena menghasilkan gas SO2 dan emisi timbal yang berlebihan. Proses yang lain adalah mengolah lumpur aki tersebut menjadi PbSO4 dengan memisahkan PbO2 dan PbO, namun proses pemisahannya panjang. Teknologi ini dapat menjadii alternatif pengolahan limbah lumpur aki bekas dengan memanfaatkan fenomena ketidakstabilan oksida-oksida timbal pada temperatur dan waktu tertentu.

  1. Pembuangan Limbah Industri Tahu

Sentra industri kecil tahu di dukuh pesalakan, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal mempunyai 175 unit usaha dengan kapasitas kedelai yang diolah 6.950 ton/hari. Jumlah air limbah diperkirakan 140 m3/hari (Moertinah, 1996). Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu merupakan limbah organik yang degradable atau mudah diuraikan oleh mikroorganisme secara alamiah. Namun karena sebagian besar pemrakarsa yang bergerak dalam industri tahu adalah orang-orang yang hanya mempunyai modal terbatas, maka perhatian terhadap pengolahan limbah industri tersebut sangat kecil, dan bahkan ada beberapa industri tahu yang tidak mengolah limbahnya sama sekali dan langsung dibuang ke lingkungan. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan dan harus mendapat perhatian yang serius.

Jenis limbah yang dihasilkan yaitu ampas tahu dan air limbah yang berasal dari bekas rendaman, pencucian, dan sisa pengepresan ampas sisa pencetakan tahu (Moertinah, 1996). Limbah di buang ke sungai Jembangan yang debitnya relatif kecil, terlebih pada musim kemarau. Selain itu, adanya genangan air buangan yang mendorong tumbuhnya jentik-jentik nyamuk yang dapat menimbulkan wabah penyakit. Berdasarkan studi lapangan, sebagian besar limbah cair yag dihasilkan oleh industri pembuatan tahu di Kabupaten Tegal khususnya Desa Pesalakan Adiwerna adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahu atau disebut air dadih . Cairan tersebut mengandung kadar protein yang tinggi dan dapat segera terurai . Namun di beberapa industri di Kabupaten Tegal , limbah cair tersebut dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga dapat menghasilkan bau busuk , mencemari sungai , dan menyebabkan polusi udara.

Upaya penanganan yang pernah dilakukan adalah penyuluhan terhadap pengusaha agar melakukan internal treatment, limbah padat berupa ampas tahu dijual kepada pengrajin tempe gembus atau untuk makanan ternak, pemanfaatan limbah tahu sisa penyaringan menjadi biogas oleh sekitar 250 home industry, diberikan bantuan prototipe berupa satu unit pengolah limbah bantuan dari Tingkat I Jawa Tengah tahun 1988/1989 dan bantuan-bantuan yang pernah diberikan guna menanggulangi pencemaran lingkungan dari Tingkat II yaitu percontohan septic tank dengan ukuran 1×11 meter tahun 1990 dari Pemda Kab.Tegal, pembuatan saluran sepanjang 330 m, 220 m, 175 m, dan 95 m dari Pemda Kab. Dati II Tegal, dan rehab Unit Pengolah Limbah (UPL) dari Pemda Kab. Dati II Tegal berupa pagar keliling dan penggalian kolam stabilisasi yang dangkal (Moertinah, 1996). Salah satu pemecahan masalah limbah tahu yang berhasil dilakukan adalah pembangunan IPAL yang selesai pada tahun 2008 Atas prakarsa peneliti dari Jerman , UGM , dan aliran dana baik dari pemerintah pusat , provinsi maupun daerah.

Ditinjau dari banyaknya pengusaha dan besarnya jumlah air limbah maka penanganan secara tuntas air limbah tersebut dibutuhkan dana yang cukup besar dan kerja sama antara pemerintah daerah juga pengusaha. Penanganan jangka panjang yang dapat dilakukan yaitu pembersihan secara rutin kotoran dan sampah yang banyak terdapat di sungai Jembangan serta pada saat tertentu di musim kemarau diadakan pengontrolan sungai, pihak Kandep Perindustrian Tegal bersama Pemda Tingkat II Tegal disarankan untuk membuat peta tebaran industri tahu dan drainase air limbah serta kemungkinan pengelompokkan lokasi pengolahan secara bersama-sama (central treatment), dibuat pengolah air limbah secara terpadu (bersama-sama) yang dilaksanakan secara bertahap.

BAB III

PENUTUP

Permasalahan kesehatan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Tegal sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia yang menggunakan sumber daya alam yang ada sebagai penunjang kebutuhan hidupnya. Permasalahan kesehatan lingkungan tersebut mempengaruhi kesehatan manusia dan menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit berbasis lingkungan serta mempengaruhi kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat. Keseimbangan lingkungan dan aktivitas manusia menjadi perhatian utama dalam memahami terjadinya suatu permasalahan kesehatan lingkungan. Permasalahan kesehatan lingkungan yang terdapat di Kabupaten Tegal merupakan suatu permasalahan yang kompleks sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, akan tetapi dibutuhkan suatu penyelesaian yang integratif , inovatif, dan solutif.

DAFTAR PUSTAKA

Alkadri, et al. 1999. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah. Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah-BPPT. Jakarta.

Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC.

Gelbert, M., et. al., 1996, Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup dan ”WallChart”, Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup, PPPGT/VEDC, Malang.

Hadi, S.P. 2000. Pengantar Audit Lingkungan. Makalah disajikan dalam Kursus Audit Lingkungan Angkatan VII, Pusat Penelitian Lingkunga Hidup (PPLH). Lembaga Penelitian UNDIP. Semarang, 07-16 November.

IUWASH news. 2012. Artikel: IUWASH Mendukung Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional 2011.Vol.001, Januari.

LP3B Buleleng-Clean Up Bali. 2003. Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis pada Masyarakat. USAID. Jakarta.

Moertinah, Sri dan Djarwanti. 1996. Penelitian Kasus Pencemaran Air Buangan Sentra Industri Tahu di Desa Adiwerna Tegal. Bull. Lit. Bang. Industri No. 20. Februari 1996.

Puskesmas Margasari. 2005. Laporan Hasil Pemeriksaan Kesehatan Gratis Pekerja Tambang Batu Gamping Desa Karangdawa Bulan November 2005, Margasari.

Setiardi, Heri. 2005. Pencemaran Akibat Pembakaran Kapur. http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/30/pan22.htm diakses pada tanggal 19 November 2012, 20.15 WIB.

Theisen, H. 1997. Solid Waste. Engineering Principles and Management Issues. Mc Graw Hill. Koogakhusa. Tokyo.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s