JURNAL SANTRI UNTUK NEGERI

Jendela Dunia

Kesehatan Reproduksi pada Korban KDRT

pada Desember 27, 2012

pergaulan-bebasSeks bebas yang telah menjadi kebiasaan para remaja akan beresiko pada kehamilan yang tidak diinginkan (unwanated pregnancy). Kehamilan yang tidak diinginkan ini (unwanted preganncy) akan berpengaruh terhadap keadaan fisik dari orang yang mengalaminya. Kasus yang terjadi adalah kehamilan yang tidak diinginkan yang terjadi pada seorang remaja berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas XI SMK dimana fungsi organ reproduksinya belum berfungsi secara optimal.

Faktor-Pemicu-Hamil-Diluar-NikahPeristiwa kehamilan akibat perilaku seks bebas yang dialami oleh perempuan tersebut sangat dimungkinkan karena kurangnya wawasan mengenai kesehatan reproduksi terkait dengan pemakaian alat pengaman saat berhubungan seks dan tingginya rasa keingintahuan tanpa diimbangi kepatuhan terhadap norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Didukung juga oleh keadaan keluarga perempuan tersebut yang tidak pernah berada di rumah sehingga pergaulan anak tidak pernah terkontrol yang berujung pada kehamilan di luar nikah.

Dalam kasus ini, perempuan tersebut akhirnya menikah dengan pasangan seksnya setelah diketahui bahwa ia hamil. Kehidupan pernikahan mereka sekarang sedang memasuki tahun ketiga dan telah dikaruniai anak berusia 2 tahun. Pada awalnya, sebelum anak mereka lahir tidak pernah terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Akan tetapi, ketika sudah ada anak dalam kehidupan rumah tangga mereka, sang suami menjadi sering melakukan kekerasan fisik maupun non fisik pada istrinya. Tidak ada yang salah dengan anak yang lahir baik secara fisik maupun psikis. Kekerasan dalam Rumah Tangga menurut Undang-Undang No 23 Tahun 2004 (pasal 1) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

korban_kdrt Kekerasan dalam  rumah tangga yang dilakukan oleh suami disebabkan karena anak yang menangis dan susah didiamkan. Hal ini mungkin juga dikarenakan faktor predisposisi suami yang rendah mengingat ia tidak sampai lulus SD dan tidak bekerja sehingga pengatahuan, sikap, dan perilakunya dalam memimpin rumah tangga dan mendidik anak pun tidak baik. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Stewart, dkk (1996) bahwa profil khusus dari penyiksa istri (wife assaulter) salah satunya digambarkan sebagai seorang pria yang memiliki kekurangan dalam keterampilan akademik, pekerjaan dan sosialnya. Selain itu dia juga merupakan seorang pecandu alkohol. Sebagaimana yang dijelaskan dalam  salah satu teori kekerasan domestik yaitu teori intraindividual yang berupa kecanduan alkohol atau obat-obatan. Dimana kecanduan alkohol atau obat-obatan yang dialami suami akan menghambat berfungsinya super ego dan memicu potensi seseorang untuk melakukan kekerasan (Harahap, 2006).

Faktor lain yang mempangaruhi terjadinya KDRT yang dilakukan suami kepada istri adalah usia, pendidikan, dan kondisi ekonomi (Sukri, 2004). Usia keduanya terpaut lima tahun dan tidak menjadi masalah dalam kasus ini. Namun, faktor pendidikan dan ekonomilah yang lebih dominan berperan memicu terjadinya KDRT. Mengingat pendidikan terkahir  keduanya, suami dan istri, terpaut cukup jauh dengan pendidikan terakhir istri adalah SMK dan suami tidak lulus SD. Faktor pendidikan ini yang lebih lanjut turut mempengaruhi keadaan ekonomi keluarga ini. Pendidikan terakhir suami yang hanya sampai SD dan tidak memiliki keterampilan dalam usaha menjadikan ia tidak bekerja dan tidak menafkahi keluarga kecilnya. Karena kedua faktor inilah yang menjadikan suami tidak mengerti bagaimana menyalurkan emosinya ketika terjadi suatu masalah, misalnya saja ketika anak menangis.

Bentuk kekerasan yang sering dilakukan sang suami adalah kekerasan fisik, psikis, dan finansial atau ekonomi. Kekerasan fisik , seperti : memukul, menampar, dan mencekik; kekerasan psikologis, seperti : berteriak, menyumpah, mengancam, melecehkan dan sebagainya; dan kekerasan finansial, seperti mengambil barang korban, dan menahan atau tidak memberikan pemenuhan kebutuhan finansial (Sukerti, 2005). Kekerasan fisik yang sering terjadi dalam kasus ini adalah dalam bentuk pukulan dan tamparan, kekerasan psikis dengan ancaman, dan kekerasan finansial dengan kelakuan suami yang tidak bekerja atau menafkahi keluarganya dan  hanya bisa menghabiskan uang kiriman dari keluarga perempuan dengan membeli minuman keras.

Dampak kekerasan yang dilakukan suami kepada istri memang belum terlihat secara nyata sekarang ini. Namun, dampak kekerasan akan muncul seiring dengan frekuensi terjadinya kekerasan dan respons perempuan. Akan ada 2 dampak yang muncul, yaitu dampak jangka pendek dan jangka panjang (Sukri, 2004) dan baik bagi perempuan maupun anak bahkan keluarga itu sendiri (Holt, et al., 2008). Dampak yang akan dialami perempuan ketika ia hanya mengikuti perasaannya dan tidak pernah memakai logika atau pemikirannya akan kekerasan yang menimpanya adalah penderitaan fisik seperti patah tulang, bengkak, memar, pendarahan dan lainnya. Sedangkan secara psikis, mereka akan merasa putus asa, tidak berdaya, mati rasa, menarik diri dari pergaulan, dan penurunan motivasi atau bahkan lebih lanjut dapat menjadikan mereka bosan hidup. Dampak dari segi finansial atau ekonomi akan jelas terasa ketika keluarga pihak perempuan tidak lagi mengirimi uang untuk kebutuhan keluarga ini. Dampak ekonomi jelas akan menjadikan keluarga ini tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan akan jatuh miskin yang lebih lanjut tidak akan dapat mengurangi kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri jika suami masih tidak bekerja dan tidak menafkahi keluarganya dan justru mungkin akan menyalahkan istri karena penghentian uang kiriman dari keluarga istri.

Dampak bagi anak ketika ia harus menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayah terhadap ibunya pun akan mucul ia sudah besar. Memang saat kekerasan itu terjadi tidak ada perubahan yang nampak pada diri anak. Tapi, lain halnya dengan perubahan emosional dan perilakunya yang akan jelas terlihat jika diamati. Terlebih ketika anak masih dalam masa pertumbuhan yang sangat cepat menangkap apa yang terjadi di sekitarnya. Sebagaimana yang ditulis oleh Hanum (2006) bahwa anak laki-laki yang pernah menyaksikan ayahnya menganiaya ibunya akan lebih besar kemungkinan untuk melakukan penganiayaan ketika sudah dewasa. Sementara itu anak perempuan yang menyaksikan penganiayaan terhadap perempuan ada kemungkinannya untuk lebih mentolerir penganiayaan ketika sudah dewasa.

Dalam menghadapi tindak kekerasan dalam rumah tangga bermacam respon yang dilakukan perempuan. salah satu faktor yang dianggap berpengaruh terhadap cara-cara menghadapi masalah adalah atribusi. Atribusi merupakan suatu proses penilaian tentang penyebab yang dilakukan individu setiap hari terhadap berbagai peristiwa, dengan atau tanpa disadari. Demikian pula ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menekan, ia akan secara spontan mencari atribusi terhadap situasi tersebut. Ada 3 dimensi atribusi yaitu lokasi penyebab, stabilitas, dan pengendalian. Kaitannya dengan kasus ini, bahwa proses atribusi yang dilakukan oleh perempuan (dalam hal ini sebagai korban) akan menentukan perasan, sikap, dan perilaku individu. Atribusi ini yang turut mempengaruhi ketidakberdayaan, memprediksi kognisi, perasaan dan penampilan kita ketika perempuan mengatasi rintangan yang selanjutnya akan mempengaruhi perilaku perempuan tersebut sebagai korban KDRT. Dalam kasus KDRT ini, respons korban terhadap kekerasan yang dialaminya hanya diam dan menurut tanpa melakukan suatu bentuk pembelaan diri. Hal ini dikarenakan korban adalah istri dari perilaku, maka alasannya istri masih mencintai suami (pelaku) atau karena alasan malu apabila aibnya diketahui banyak orang jika kekerasan tersebut dilaporkan (Raharjo, 2008). Selain itu, kebanyakan perempuan korban KDRT cenderung menyalahkan diri sendiri atas kekerasan yang dialaminya sebagai wujud dari hasil proses atribusi mereka akan kekerasan yang menimpanya.

Tingkat pendidikan korban yang lebih tinggi dari suami ternyata tidak mampu mengurangi kejadian KDRT yang terjadi. Hal ini bertolak belakang dengan pustaka yang menunjukkan ada keterkaitan antara tingkat pendidikan korban KDRT dengan atribusi yang mereka lakukan. Dengan pendidikan yang relatif tinggi mestinya pada korban KDRT lebih mampu berpikir secara rasional. Namun, pada kasus ini yang terjadi justru sebaliknya. Berpikir secara rasional yang dimaksudkan disini adalah mereka mampu melihat duduk permasalahan dengan jernih dan tidak semata-mata dengan perasaan saja, apalagi perasaan yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Ketidakberdayaan dan mendahulukan perasaan yang dialami oleh korban KDRT inilah yang menjadikan kekerasan akan terjadi secara berulang dengan penyebab kekerasan yang sama atau permanen. Dalam kasus ini misalnya, ketika istri tidak pernah membela diri ketika suami melakukan kekerasan kepadanya disebabkan anak yang menangis, maka dapat dipastikan kejadian kekerasan akan terjadi secara berulang dan menjadikan suami merasa telah berkuasa dan berhasil membuktikkannya dengan membuat istri hanya pasrah dan manut.

Cara penyelesaian KDRT sendiri disesuaikan dengan tujuan Undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga nomor 23 tahun 2004 yaitu mengharmonisasikan kehidupan berumah tangga. Namun penyelesaian kasus KDRT tidak dapat dilakukan dengan satu cara atau dari satu sudut pandang saja melainkan harus dilakukan dengan berbagai cara dan dari berbagai sudut pandang terlebih ketika sudah ada anak dalam keluarga tersebut. Mengharmonisasikan kehidupan berumah tangga yang terdapat dalam UU tersebut masih menimbulkan banyak pertanyaan terkait kriteria dari kehidupan rumah tangga yang harmonis bagi korban KDRT. Ketika yang dimaksud adalah penghentian tindak kekerasan, maka pemisahan atau perceraian bukanlah solusi yang terbaik. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam pustaka bahwa “Pemisahan bukanlah vaksinasi terhadap kekerasan dalam rumah tangga”. Kekerasan akan terus berlanjut dengan berbagai dalih yang dikeluarkan oleh suami untuk melegalkan perbuatannya, misalnya saja dengan mengatasnamakan statusnya sebagai ayah biologis dari anak.

women-violence_26Penyelesaian KDRT yang ditawarkan dalam UU 23 Tahun 2004 ada yang melalui jalur litigasi dan non litigasi. Ketika terjadi kekerasan dalam lingkup rumah tangga langkah awal adalah melakukan proses mediasi antar pelaku, korban, dan polisi sebagai pihak ketiga atau mediator. Apabila dalam tahap mediasi telah tercapai kesepakatan perdamaian maka proses hukum dihentikan, akan tetapi apabila dalam tahap mediasi tidak ditemukan kesepakatan maka kasus akan diproses lebih lanjut melalui proses hukum. Namun, tentu saja hal ini dapat dilakukan ketika kedua pihak baik pelaku ataupun korban bersedia untuk mengikuti proses mediasi. Ketika keduanya ataupun salah satu dari keduanya tidak bersedia, maka dibutuhkan cara lain untuk menyelesaikan kasus KDRT.

Cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan kasus KDRT adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat sekitar tempat tinggal mereka. Masyarakat disini tentunya akan sangat berguna untuk mengetahui lebih dalam kekerasan yang terjadi dan lebih baik lagi ketika masyarakat dapat melihat secara langsung bukti fisik akibat kekerasan yang menimpa korban. Kepedulian masyarakat akan membuat korban menjadi terbuka dan menceritakan kekerasan yang dialaminya. Ketika korban sudah mulai terbuka, anggota masyarakat yang berperan sebagai pihak ketiga itu dapat menanyakan keinginan korban terkait kekerasan yang dialaminya, perceraian dengan suami atau hanya sekedar ingin lepas dari kekerasan yang dialaminya. Setelah keinginan korban dapat diketahui baru ditentukan langkah selanjutnya sesuai yang terdapat pada UU No 23 Tahun 2004 yaitu lewat jalur litigasi atau non litigasi. Selain untuk menghentikan kekerasan yang sering dilakukan terhadap istri, juga diperlukan suatu cara untuk menghindarkan anak melihat secara langsung kekerasan yang dilakukan sang ayah pada ibunya. Dalam hal ini, sekali lagi dibutuhkan peran pihak ketiga untuk membantu merawat atau menjaga anak ketika sedang terjadi ketegangan atau kekerasan dalam rumah tangga. Ketika anak ada di tempat kejadian besar kemungkinannya anak juga akan terkena perilaku kekerasan dari ayahnya secara langsung atau tidak langsung. Terlebih ketika yang menjadi sebab terjadinya kekerasan ada pada diri anak. Meskipun dalam kasus ini anak tidak pernah terkena kekerasan dari ayahnya, tapi tidak dapat menutup kemungkinan di lain waktu saat kembali terjadi kekerasan anak akan menjadi korban juga.

Proses hukum sebaiknya tidak dilakukan ketika proses kekeluargaan masih dapat dilakukan. Hal ini menyangkut keberlangsungan hidup lebih dari satu orang, yaitu perempuan sebagai korban dan juga anak yang memang masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Referensi

Stewart,W.F., and 0’Farrel, T.J. 1996. Behavioral Couples Therapy For Male Substance-Abusing Patients: Effects On Relationship Adjustment And Drug-Using Behavior. Journal of Consulting and Clinical Psychology, Vol.64, No.5,959-972.

Sukri, S. 2004. Islam Menentang Kekerasan Terhadap Istri. Yogyakarta : Gama Media.

UU RI No. 23 Tahun 2004. Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah TanggaCet. II, Desember, 2006. Bandung: Pustaka fokus media.

Harahap, Farida. 2006. Kekerasan dalam Rumah Tangga. Paradigma, No. 01 Th. I, Januari 2006. ISSN 1907-297X.

Hanum, Farida. 2006. Perempuan dan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Sarathi Vol. 13 No.2 Juni 2006. ISSN: 0852-7741.

Raharjo dkk. 2008. “ Mediasi sebagai Basis dalam Penyelesaian Perkara Pidana”, Jurnal Mimbar Hukum, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, Vol. 20, 2008, hlm. 93.

Sukerti, Ni Nyoman,  2005. “Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga : Kajian Dari Perspektif Hukum Dan Gender Studi Kasus Di Kota Denpasar”. Bandung : Program Pascasarjana, Universitas Udayana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s