JURNAL SANTRI UNTUK NEGERI

Jendela Dunia

ABI, MY SUPERHERO

pada Oktober 13, 2014

Galak dan serem. Mungkin dua kesan pertama saat baru melihat sosok Abi. Tapi kedua kesan tersebut akan menghilang saat mulai berbincang-bincang dengan Abi. Menurutku, Abi tidak galak, hanya beliau sangat tegas dan terlampau peduli. Beliau sosok yang bijak, mampu menyayangi dan memperlakukan semua keluarga besar dengan sama. beliau gak serem, hanya ekspresi dan emosi beliau amat mudah terbaca. beliau pandai sekali berteman dan sangat menjaga hubungan baik dengan orang lain. Terkejut saat di setiap tempat atau jalan yang dikunjungi selalu saja ada yang mengenal Abi dan sebaliknya Abi selalu bisa nyambung pembicaraan dengan orang lain. Entah saya gak tahu bagaimana Abi bisa seperti itu.

Abi bukan seorang yang romantis, yang pandai merayu, berucap kata bak pujangga. Beliau tidak pernah merayakan ulang tahun anggota keluarganya, tidak suka memanjakan anak-anaknya. Tapi menurutku perlakuan yang beliau selama ini lakukan mampu menunjukkan sisi romantis Abi. Abi selalu siap mengantarkan Umi kemanapun pergi, selalu siap dan tanggap saat anak-anaknya membutuhkan perhatian dan bantuan beliau, mampu menghibur Umi dan anak-anaknya saat sedih, dan menenangkan berbagai gejolak atau masalah yang pernah ada.

Abi merupakan sosok kepala keluarga yang sangat kucintai, kusayangi, dan kubanggakan. Abi bukanlah seorang yang sarjana, pejabat, atau pengusaha. Abi hanyalah seorang anak lelaki terakhir dan satu-satunya di keluarganya. SMA pun Abi tidak lulus. Abi bukan pula seorang lulusan pesantren. Abi tidaklah rupawan. Tapi Abi sungguh luar biasa. Di usia 30 tahun Abi sudah bisa naik haji, sudah punya rumah sendiri dan usaha, dan menjadi imam keluarga yang bijaksana.

Salah satu faktor penentu keberhasilan Abi adalah bakti Beliau pada kedua orang tua dan kasih sayang beliau pada keluarganya. Teringat kisah, ketika usaha kakek gagal, maka Abi yang pergi ke luar kota bahkan keluar pulau untuk membantu ekonomi keluarga hingga beliau meninggalkan bangku sekolah saat SMP. Bahkan sampai Abi menikah pun, masih membantu usaha kakek tanpa rasa pamrih. Pun ketika Kakak Abi (Bude ku) kuliah di luar kota, Abi yang selalu mengantarkan kebutuhan bude dengan naik motor. Masa remaja Abi pun tidak seenak dan semudah seperti masa remaja yang kulalui. Umi dan Pakde ku pernah cerita, bagaimana dulu Abi waktu masih muda jarang makan dalam seharinya dan akhirnya main ke tempat Keluarga Umi dan makan disana (read: JODOH: Umi dan Abi).

Abi tidak suka menumpuk-numpuh dunia, bahkan Abi sangat suka sedekah. Mungkin ini juga salah satu senjata keberhasilan Abi sekarang. Abi selalu memegang teguh prinsipnya bahwa ‘Shodaqoh akan menjadikan hidup menjadi lebih barokah’.

Abi tidak selancar anak-anaknya dalam membaca Al-Qur’an, tapi Abi berhasil memasukkan anak-anaknya ke pesantren agar bisa membaca Al-qur’an dan mempelajari ilmu agama. Bahkan pesantren ini lain dari yang lain (read: Pesantrenku, Ar-Risalah). Abi tidak sekaya wali santri lainnya di pesantren ini, tapi Abi memiliki prinsip ‘selalu ada rizki untuk anak yang mencari ilmu dan orang yang menghidupkan agama Allah’. Dan Alhamdulillah, anak pertamanya pun bisa menamatkan pendidikan di pesantren hingga enam tahun dan memasukkan anak lelakinya ke pesantren yang sama juga. Suatu hari ada teman anak pertama Abi di pesantren yang mengira Abi adalah seorang Kyai dan memiliki pesantren. Tapi di lain waktu ketika sedang pergi ke luar kota justru ada yang mengira Abi adalah seorang polisi. Entahlah.

Abi memang terlihat galak dari luar, tapi sungguh Abi memiliki hati yang begitu halus dan rasa peduli yang tinggi. Masih teringat dengan jelas, saat Abi menangis dengan begitu deransya melihat anak laki-lakinya (adikku) wisuda MDA dan bagaimana usaha Abi lainnya yang menunjukkan kasih sayangnya pada anak-anaknya. Abi selalu mengunjungiku tiap bulan di pesantren, ikut ke Jakarta saat aku mengikuti lomba chinese bridge, memberikan hadiah saat anak-anaknya berprestasi (dari SD hingga kuliah), menemaniku mengikuti SNMPTN tulis, mengantarkan keperluanku saat akan mengikuti seleksi AFS tahap nasional hingga menunggu sampai tengah malam di jalan yang biasanya dilalui bis (waktu itu aku naik bis dari Malang-Jakarta), datang ke pesantren di luar hari kunjungan hanya untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan AFS, mengantarkan aku dan teman-teman saat akan melaksanakan kegiatan internship di sebuah LSM di Ungaran, dan masih banyak momen tak terlupakan bersama Abi.

‘Memang benar, Ayah selalu mengedepankan kepentingan anak-anak dan istrinya dan bahkan melupakan kepentingan dan kebutuhan pribadinya.’

Abi yang sekarang bukan hanya milik anak-anaknya saja. Tetangga sekitar rumah pun jadi terbiasa memanggil beliau dengan ‘Abi’. Abi abi dan abi. Semoga Abi selalu diberikan kesehatan, keselamatan, umur yang panjang dan berkah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s