JURNAL SANTRI UNTUK NEGERI

Jendela Dunia

Pengembangan Masyarakat (Community Development)

pada Oktober 13, 2014

Masalah kesehatan masyarakat di Indonesia umumnya disebabkan karena rendahnya tingkat sosial ekonomi masyarakat, yang mengakibatkan ketidakmampuan dan ketidaktahuan dalam berbagai hal, khususnya dalam bidang kesehatan guna memelihara diri mereka sendiri (self care). Bila keadaan ini dibiarkan akan menyebabkan masalah kesehatan terhadap individu, keluarga, kelompok-kelompok dan masyarakat secara keseluruhan. Dampak dari permasalahan ini adalah menurunnya status kesehatan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Keadaan ini akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas keluarga dan masyarakat untuk menghasilkan sesuatu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang selanjutnya membuat kondisi sosial ekonomi keluarga dan masyarakat semakin rendah, demikian seterusnya berputar sebagai suatu siklus yang tidak berujung seperti yang terdapat dalam gambar di bawah ini.

Berdasarkan fenomena tersebut, maka masyarakat perlu dikembangkan dan diberdayakan agar dapat meningkatkan kemandiriannya sehingga diharapkan individu, kelompok atau masyarakat bisa mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk memelihara dan melindungi kesehatan mereka sendiri (kemandirian atau self reliance).

  1. Definisi dan Konsep Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat (community development) terdiri dari dua konsep, yaitu “pengembangan” dan “masyarakat”. Secara singkat, pengembangan merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Telah disebutkan bahwa konsep dari komunitas adalah sekelompok orang dengan identitas bersama. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat bergantung pada interaksi antara manusia dan aksi bersama daripada kegiatan individu apa yang beberapa ahli sosiologi menyebutnya dengan ‘lembaga kolektif’ (Flora dan Flora 1993). Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi beberapa sektor, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial-budaya. Masyarakat dapat diartikan dalam dua konsep, yaitu:

–       Masyarakat sebagai sebuah “tempat bersama”, yakni sebuah wilayah geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah perkotaan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan.

–       Masyarakat sebagai “kepentingan bersama”, yakni kesamaan kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai contoh, kepentingan bersama pada masyarakat etnis minoritas atau kepentingan bersama berdasarkan identifikasi kebutuhan tertentu seperti halnya pada kasus para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus (anak cacat phisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan mental (Mayo, 1998).

Pengembangan sendiri menurut United Nation adalah Pengembangan adalah suatu proses yang didesain untuk menciptakan kondisi ekonomi dan kemajuan sosial untuk komunitas yang berhubungan dengan partisipasi aktif dan untuk memenuhi kemungkinan kepercayaan atas inisiatif komunitas. Komunitas sendiri ada dua, yaitu rural community dan urban community. Pengembangan adalah proses meningkatkan pilihan, dalam arti pilihan baru, diversifikasi, berpikir tentang isu secara berbeda dan mengantisipasi perubahan (Christenson et al., 1989).

Ada banyak definisi pengembangan masyarakat menurut pada ahli, antara lain:

–       Bhattacarya. Pengembangan masyarakat adalah pengembangan manusia yg tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi dan kemampuan manusia untuk mengontrol lingkungannya. Pengembangan masyarakat adalah usaha untuk membantu manusia mengubah sikapnya terhadap masyarakat, membantu menumbuhkan kemampuan berorganisasi, berkomunikasi, dan menguasai lingkungan fisiknya. Manusia didorong untuk mampu membuat keputusan, mengambil inisiatif dan mampu berdiri sendiri.

–       Yayasan Indonesia Sejahtera. Pengembangan masyarakat adalah usaha-usaha yang menyadarkan dan menanamkan pengertian kepada masyarakat agar dapat menggunakan dengan lebih baik semua kemampuan yang dimiliki, baik alam maupun tenaga, serta menggali inisiatif setempat untuk lebih banyak melakukan kegiatan investasi dalam mencapai kesejahteraan yang lebih baik.

–       Pengembangan masyarakat adalah metoda yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya (AMA, 1993)

–       Pengembangan masyarakat adalah proses membantu masyarakat menganalisa masalah mereka, untuk melaksanakan sebagai ukuran besar otonomi yang mungkin dan layak, dan untuk mempromosikan identifikasi yang lebih besar dari warga negara individu dan individu organisasi dengan masyarakat secara keseluruhan (Warren, 1978).

Nies dan McEwan (2001) mendeskripsikan pengembangan kesehatan masyarakat (community health development) sebagai pendekatan dalam pengorganisasian masyarakat yang mengombinasikan konsep, tujuan, serta proses kesehatan masyarakat dan pembangunan masyarakat. Dalam pengembangan kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan mengidentifikasikan kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan kemudian mengembangkan, mendekatkan, dan mengevaluasi tujuan-tujuan pembangunan kesehatan melalui kemitraan dengan profesi lain yang terkait (CHNAC, 2003; Diem dan Moyer, 2004).

  1. Hakikat dan Tujuan Pengembangan Masyarakat
    1. Hakikat

Hakikat pengembangan masyarakat pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia atau masyarakat (Effendy, 1998). Selain itu, hakikat dari pengembangan masyarakat adalah apa yang dirasakan oleh masyarakat itu sendiri, bukan apa yang dituliskan dalam angka atau teori. Dalam hal ini, ketika ditemukan data dalam bentuk angka tentang keadaan suatu masyarakat atau sebuah teori maka harus dikompromikan atau dicocokkan dengan kondisi riil masyarakat karena sering kali yang terjadi adalah Theory is not a reality.

Sanders (1958) melihat pengembangan masyarakat sebagai suatu proses bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain, sebuah metode untuk mencapai tujuan, sebuah prosedur program dan sebagai sebuah gerakan menyapu orang dalam emosi dan keyakinan.

  1. Tujuan
    1. Menimbulkan percaya kepada diri sendiri
    2. Menimbulkan rasa bangga, semangat, dan gairah kerja
    3. Meningkatkan dinamika untuk membangun
    4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Dalam mencapai tujuannya, pengembangan masyarakat harus dilakukan secara holistik atau dengan multidisipliner untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu, yang perlu diingat adalah bahwa manusia bersifat dinamis sehingga dapat dilakukan intervensi untuk mengembangkan masyarakat. Dinamis berarti manusia tetap menuju kebenaran dan tidak berhenti. Manusia tidak pernah tamat dan tidak pernah sampai pada titik selesai. Sifat dinamis ini juga menyentuh masalah evolusi dan sejarah. Pengetahuan manusia dipengaruhi oleh sejarah, lingkungan sosial, kebudayaan, dan faktor-faktor individual (Snijders, 2006). Maka dari itu, ketika manusia diberikan intervensi dan diberdayakan maka besar kemungkinannya akan dapat berubah, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mau menjadi mau, dan dari tidak mampu menjadi mampu.

Secara umum, beberapa bidang yang harus dikuasai dalam pengembangan masyarakat agar tujuan dapat tercapai adalah:

  • Engagement (dengan beragam individu, kelompok, dan organisasi).
  • Assessment (termasuk need assessment atau jajak kebutuhan dan profil wilayah).
  • Penelitian (termasuk penelitian aksi-partisipatif dengan masyarakat).
  • Groupwork (termasuk bekerja dengan kelompok pemecah masalah maupun kelompok-kelompok kepentingan).
  • Negosiasi (termasuk bernegosiasi secara konstruktif dalam situasi-situasi konflik).
  • Komunikasi (dengan berbagai pihak dan lembaga).
  • Konseling (termasuk bimbingan dan penyuluhan terhadap masyarakat dengan beragam latar kebudayaan).
  • Manajemen sumber (termasuk manajemen waktu dan aplikasi-aplikasi untuk memperoleh bantuan).
  • Pencatatan dan pelaporan.
  • Monitoring dan evaluasi.
  1. Unsur-unsur dan Bentuk-bentuk Pengembangan Masyarakat

Unsur – unsur pengembangan masyarakat antara lain:

  1. Program terencana yang terfokus kepada kebutuhan-kebutuhan menyeluruh (total needs) dari masyarakat yang bersangkutan (Holistik).
  2. Mendorong swadaya masyarakat (empowerment).
  3. Adanya bantuan teknis dari pemerintah maupun badan-badan swasta atau organisasi-organisasi sukarela, yang meliputi tenaga personil, peralatan, bahan ataupun dana (kemitraan).
  4. Mempersatukan berbagai spesialisasi seperti pertanian, peternakan, kesehatan masyarakat, pendidikan, kesejahteraan keluarga, kewanitaan, kepemudaan, dll untuk membantu masyarakat (Efendi, 2009).

Menurut Mezirow (1997), terdapat tiga jenis program dalam usaha pengembangan masyarakat, yaitu:

  • Program integratif. Memerlukan pengembangan melalui koordinasi dinas-dinas teknis, menyediakan bantuan teknis dan finansial secara besar-besaran dan melibatkan pejabat-pejabat tiap tingkatan pemerintah (pusat-desa). Misalnya adalah program ABAT (Aku Bangga Aku Tahu) yang dibuat oleh kementerian kesehatan untuk mengatasi permasalahan HIV/AIDS yang makin banyak terjadi pada remaja.
  • Program adaptif. Fungsi pengembangan masyarakat cukup ditugaskan pada salah satu kementerian.
  • Program proyek. Dalam bentuk usaha-usaha terbatas pada wilayah tertentu dan program disesuaikan khusus pada daerah yang bersangkutan. Misalnya: kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah endemis malaria, maka dalam rangka mencegah semakin meluasnya endemis dan mengurangi penderita malaria pemerintah atau dinas kesehatan setempat membuat sebuah program pemberantasan malaria khusus untuk wilayah endemis malaria di Banjarnegara.

Langkah-langkah untuk mengembangkan dan meningkatkan dinamika masyarakat sebagai berikut :

1)   Ciptakan kondisi agar potensi setempat dapat dikembangkan dan dimanfaatkan.

2)   Pertinggi mutu potensi yang ada.

3)   Usahakan kelangsungan kegiatan yang sudah ada.

4)   Tingkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Effendy, 1998).

Penjabaran secara operasional dari bentuk program pengembangan masyarakat ini sebagai berikut :

–       Berikan kesempatan agar masyarakat sendiri yang menentukan masalah kesehatan, baik yang dihadapi secara individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

–       Berikan kesempatan agar masyarakat sendiri yang membuat analisis dan kemudian menyusun perencanaan penanggulangan masalah.

–       Berikan kesempatan agar masyarakat sendiri yang mengorganisir diri untuk melaksanakan usaha perbaikan tersebut.

–       Dalam prosesnya sedapat mungkin digali dari sumber-sumber yang ada dalam masyarakat sendiri dan kalau betul-betul diperlukan dimintakan bantuan dari luar.

  1. Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat menggabungkan dua kata secara bersama-sama yaitu pengembangan dan masyarakat yang menunjukkan bahwa masyarakat itu sendiri terlibat dalam proses yang bertujuan untuk meningkatkan sosial, ekonomi dan situasi lingkungan masyarakat.

Masyarakat merupakan maksud dan akhir dari pengembangan masyarakat, bukan hanya sebagai objek tapi juga berperan sebagai subjek dalam pengembangan masyarakat. Masyarakat sendiri yang mengambil tindakan dan berpartisipasi bersama-sama. Hal ini melalui tindakan masyarakat tersebut menjadikan masyarakat lebih penting, tidak hanya ekonomi tapi sebagai fungsi masyarakat yang kuat. Pengembangan masyarakat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bersama membuat keputusan tentang penggunaan sumber daya, seperti infrastruktur, tenaga kerja, dan pengetahuan.

Berkaitan dengan pengembangan kesehatan masyarakat yang relevan, maka digunakan pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan model pengembangan masyarakat. Asumsi dasar mekanisme kolaborasi antar tenaga kesehatan dengan masyarakat adalah hubungan kemitraan yang dibangun memiliki dua manfaat sekaligus, yaitu meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dan keberhasilan program kesehatan masyarakat (Kreuter et al., 2000). Mengikutsertakan masyarakat dan partisipasi aktif mereka dalam pembangunan kesehatan dapat meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi tenaga kesehatan dengan masyarakat (Sienkiewicz, 2004). Dukungan dan penerimaan tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatnya sumber daya masyarakat yang dapat dimanfaatkan, meningkatnya kredibilitas program kesehatan, serta keberlanjutan koalisi perawat komunitas dengan masyarakat (Bracht, 1990).

Peran serta masyarakat adalah proses dimana individu, keluarga, dan lembaga masyarakat termasuk swasta mengambil tanggung jawab atas kesehatan diri, keluarga, dan masyarakat; mengembangkan kemampuan untuk menyehatkan diri, keluarga, dan masyarakat; serta menjadi pelaku perintis kesehatan dan pemimpin yang menggerakkan kegiatan masyarakat di bidang kesehatan berdasarkan atas kemandirian dan kebersamaan. Peran serta masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat (Mapanga dan Mapanga, 2004).

Berbagai pendekatan dan bentuk – bentuk partisipasi atau peran serta masyarakat yang secara garis besar meliput Primary Health Care (PHC), Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) dan Posyandu sebagai bentuk pelayanan kesehatan yang melibatkan secara langsung peran aktif dari masyarakat. Primary Health Care (PHC) sebagai Pendekatan atau Strategi Global untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua (KBS) atau Health For All by The Year 2000 ( HFA 2000 ). Dalam konferensi tersebut Indonesia juga ikut menandatangani dan telah mengambil kesepakatan global pula dengan menyatakan bahwa untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua Tahun 2000 ( HFA’2000 )  kuncinya adalah PHC (Primary Health Care) dan Bentuk Opersional dari PHC tersebut di Indonesia adalah PKMD ( Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa ). Dimana PKMD adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilaksanakan atas dasar gotong royong dan swadaya dalam rangka menolong diri sendiri dalam memecahkan masalah untuk memenuhi kebutuhannya di bidang kesehatan dan dibidang lain yang berkaitan agar mampu mencapai kehidupan sehat sejahtera.

Cara dan langkah dalam meningkatkan peran serta masyarakat antara lain sebagai berikut:

–       Peningkatan peran serta masyarakat pada umumnya merupakan proses yang berorientasi pada manusia dan hubungannya dengan manusia lainnya

–       Penting ditekankan bahwa para pembina peran serta masyarakat harus bersifat sebagai fasilitator, pemberi bantuan teknis, bukan sebagai instruktur terhadap masyarakat, agar mampu mengembangkan kemandirian masyarakat dan bukan menimbulkan ketergantungan masyarakat (Efendi, 2009).

Secara garis besar, langkah pengembangan peran serta masyarakat umum adalah sebagai berikut:

–       Penggalangan dukungan penentu kebijakan (opinion leader), pemimpin wilayah, lintas sektor, dan berbagai organisasi kesehatan, yang dilaksanakan melalui dialog, seminar, dan lokakarya dengan memanfaatkan media massa dan sistem informasi kesehatan.

–       Persiapan petugas penyelenggara melalui pelatihan, orientasi, atau sarasehan di bidang kesehatan.

–       Persiapan masyarakat melalui serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenal dan memecahkan masalah kesehatan, dengan menggali dan menggerakkan swadaya yang dimiliki (Efendi, 2009).

Sasaran peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan adalah sebagai berikut:

–       Individu yang berpengaruh atau tokoh masyarakat, baik formal maupun informal.

–       Keluarga.

–       Kelompok masyarakat dengan kebutuhan khusus kesehatan seperti anak sekolah, ibu hamil, lansia, dan lain-lain.

–       Organisasi masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menyelenggarakan upaya kesehatan seperti organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, dan sebagainya.

–       Masyarakat umum di desa (kelurahan), kota, dan pemukiman khusus (Efendi, 2009).

Strategi dan Perencanaan Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat (community development) dipandang sebagai strategi yang tepat untuk memberdayakan dan menigkatkan taraf hidup masyarakat luas. Namun perlu diingat bahwa setiap masyarakat mempunyai tradisi dan adat-istiadat yang berbeda, yang dapat menjadi potensi yang dapat dikembangkan sebagai modal sosial. Untuk itu dalam upaya pengembangan masyarakat, dibutuhkan strategi dan pendekatan yang tepat. Selain itu, perlu juga dilakukan pembahasan pengembangan masyarakat dalam konteks beragam pendekatan yang dapat dipandang sebagai cara-cara alternatif dalam melaksanakan pengembangan masyarakat.

Strategi pengembangan masyarakat yang di ungkapkan Chin dan Benne (1961) dalam Nasdian (2006) antara lain rational-empirical, normative-reeducative dan power-coorcive. Rational-empirical menitik beratkan pada basis riset oleh beberapa ahli. Sedangkan normative-reeducative lebih terkait dengan sikap dan sistem nilai warga komunitas. Berbeda dengan kedua strategi tersebut, power-coercive  lebih terkait dengan hubungan relasi kekuasaan dimana kekuasaan tersebut cenderung dipaksakan kepada komunitas.

Asumsi-asumsi dasar strategi pengembangan masyarakat pada production centered development menyatakan bahwa asumsi tentang masyarakat dipandang sebagai komunitas yang tradisional dan memiliki pengetahuan yang rendah. Maka untuk memajukan komunitas tersebut diperlukan pengetahuan dari luar. Konsekuensi perencanaannya bersifat top-down, sentralistis, direncanakan oleh tenaga ahli dan lebih mengutamakan perencanaan pertumbuhan ekonomi makro. Konsekuensi perlakuan terhadap masyarakat memposisikan tenaga ahli sebagai pihak yang dilayani oleh masyarakat sehingga berimplikasi pada kehidupan sosial lebih menutupi realitas yang ada. Sedangkan tipe people centered development mengasumsikan masyarakat (komunitas) dibangun bukan karena mereka bodoh atau tidak mampu tetapi kemampuan yang dimiliki dioptimalkan sesuai dengan pengetahuan lokal dan teknologi tepat guna sebagai basis pengembangan masyarakat. Konsekuensi dari perencanaan ini menekankan pada aspek lokalitas, perencanaan secara otonomi berdasarkan lokalitas dan partisipasi masyarakat dan pemikiran otonomi ditekankan berdasarkan kebutuhan mikro. Sehingga konsekuensi perlakuan masyarakat memposisikan tenaga ahli sebagai fasilitator yang berimplikasi bagi kehidupan sosial yang lebih membuka realitas.

Pelaksanaan pengembangan masyarakat dapat dilakukan melalui penetapan sebuah program atau proyek pembangunan. Secara garis besar, perencanannya dapat dilakukan dengan mengikuti 6 langkah perencanaan, yaitu:

  1. Perumusan masalah. Pengembangan masyarakat dilaksanakan berdasarkan masalah atau kebutuhan masyarakat setempat. Beberapa masalah yang biasanya ditangani oleh pengembangan masyarakat dalam kesehatan antara lain perilaku hidup bersih dan sehat, health seeking behaviour, deteksi dini, dan lain-lain. Perumusan masalah dilakukan dengan menggunakan penelitian (survey, wawancara, observasi), diskusi kelompok, rapat desa, dan sebagainya.
  2. Penetapan program. Setelah masalah dapat diidentifikasi dan disepakati sebagai prioritas yang perlu segera ditangani, maka dirumuskanlah program penanganan masalah tersebut.
  3. Perumusan tujuan. Agar program dapat dilaksanakan dengan baik dan keberhasilannya dapat diukur perlu dirumuskan apa tujuan dari program yang telah ditetapkan. Tujuan yang baik memiliki karakteristik jelas dan spesifik sehingga tercermin bagaimana cara mencapai tujuan tersebut sesuai dengan dana, waktu dan tenaga yang tersedia.
  4. Penentuan kelompok sasaran. Kelompok sasaran adalah sejumlah orang yang akan ditingkatkan kualitas hidupnya melalui program yang telah ditetapkan.
  5. Identifikasi sumber dan tenaga pelaksana. Sumber adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menunjang program kegiatan, termasuk didalamnya adalah sarana, sumber dana, dan sumber daya manusia.
  6. Penentuan strategi dan jadwal kegiatan. Strategi adalah cara atau metoda yang dapat digunakan dalam melaksanakan program kegiatan.
  7. Monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memantau proses dan hasil pelaksanaan program.

DAFTAR PUSTAKA

AMA. 1993. Local Authorities and Community Development: A Strategic Opportunity for the 1990s. London: Association of Metropolitan Authorities.

Bracht, N. 1990. Health Promotion at the Community Level. Newbury Park, CA: Sage.

Christenson, J.A. and Robinson, J.W. 1989. Community Development in Perspective. Iowa State University Press, Ames Iowa.

Efendi, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta:EGC.

Flora, C.B. and J.L. Flora. 1993. “ Entrepreneurial Social Infrastructure: A Necessary Ingredient.”   Annals of the American Academy of Political and Social Sciences  539: 48-58.

Kreuter, et al. 2000. Are Tailored Health Education Materials Always More Effective than non-Tailored Materials? Health Education Research 15(3), 305-315.

Mapanga, Kudakwashe G dan Mapanga, Margo B. 2004. A Community Health Nursing Perspective of Home Health Care Management and Practice. Home Health Care Management & Practice. vol.16 no.4. halaman 271-279.

Mayo, M. 1994. “Community Work”, dalam Hanvey and Philpot (eds), Practising Social Work. London: Routhledge.

Mezirow. 1997. Transformatif Dimension of Adult Learning. New York: Suny Press.

Nasdian FT. 2006. Pengembangan masyarakat. Bagian Sosiologi Pedesaan dan Pengembangan Masyarakat. Departemen Komunikasi dan Pengembangn Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor (Tidak diterbitkan).

Nies, MA., and McEwen, M. 2001. Community Health Nursing: PromotingThe Health of Populations. 3rd Ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company.

Sanders, I.T.  1958. Theories of Community Development. Rural Sociology 23(1): 1-12.

Sienkiewicz, Josephine. 2004. The Quality Network Adverse-Event Benchmarking Project: A New Jersey Perspective. Home Care Management and Practice. Vol. 16 no. 4. Page: 280-285.

Snijders, Adelbert. 2006. Manusia dan Kebenaran, Sebuah Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.

Warren. R. 1978. The Community in America. Third Edition. Chicago: Rand-McNally.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s