JURNAL SANTRI UNTUK NEGERI

Jendela Dunia

Garis Kehidupan dalam Genggaman Tangan

pada Mei 12, 2016

 

I’m the master of my fate. I’m the captain of my soul

Invictus, William Henley

Di suatu kota, ada seorang pengusaha yang kaya raya. Ia memiliki keluarga yang harmonis, kehidupan spiritual yang baik, serta dikenal dermawan oleh masyarakat sekitar. Waktu mudanya konglomerat itu berasal dari keluarga yang sangat miskin. Namun ia mampu mengubah hidupnya dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang sangat disegani di lingkungannya.

genggaman 1genggaman 2genggaman 3

Karena penasaran, ada seorang pemuda yang ingin belajar menimba pengalaman dari pengusaha tersebut. Pemuda itu memberanikan diri untuk mengirim surat yang isinya meminta kesempatan untuk bertemu langsung dengan sang pengusaha untuk bertanya beberapa hal. Akhirnya pemuda itu berhasil menemui si pengusaha.

“Terima kasih Bapak mau menerima kunjungan saya. Terus terang tujuan saya ingin menemui Bapak adalah untuk menimba pengalaman dari Bapak. Saya ingin tahu apa yang telah Bapak lakukan di masa muda sehingga dapat sukses seperti Bapak,” ujar pemuda itu.

Mendengar pertanyaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian ia meminta pemuda tadi menengadahkan kedua tangannya. Si pemuda pun bingung. Namun tak lama pengusaha tadi menjelaskan maksudnya.

“Biar aku lihat garis tanganmu. Perhatikan baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan pelajaran seperti yang kamu minta,” jawab sang pengusaha.

Setelah pemuda itu menengadahkan kedua tangannya, si pengusaha pun berkata, “Lihatlah telapak tanganmu ini. Disini ada beberapa garis utama yang menentukan nasibmu. Di sini ada garis kehidupan. Kemudian, disini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh.”

Si pemuda itu hanya manggut-manggut.

“Sekarang menggenggamlah,” ujar sang pengusaha.

Pemuda itu pun mengepalkan kedua tangannya.

“Dimana semua garis tadi?” tanya sang pengusaha.

“Di dalam telapak tangan yang saya genggam,” jawab si pemuda.

“Nah, apa artinya itu?” tanya sang pengusaha.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Tidak tahu.

“Hal itu mengandung arti bagaimana takdir dan nasibmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Coba kamu lihat, bukankah semua garis hidupmu tadi ada di dalam genggaman tanganmu? Dan, itulah rahasia suksesku selama ini. Aku berjuang dan berusaha dengan berbagai cara untuk menentukan nasibku sendiri di masa mendatang,” terang si pengusaha.

Si pemuda mengangguk-angguk paham dengan penjelasan sang pengusaha.

“Tetapi coba lihat lagi genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tidak ikut tergenggam?” lanjut sang pengusaha. “Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. Ada tangan-tangan gaib yang senantiasa bekerja di semesta. Disanalah letak kekuatan spiritual dari Sang Maha Pencipta. Itu mengandung arti bahwa kita tidak dapat memperoleh semua itu tanpa bantuan Tuhan. Iringi usahamu dengan doa dan pengabdian pada-Nya.”

Si pemuda itu pun sangat bergembira karena pelajaran hidup yang diberikan oleh sang pengusaha kepadanya.

disalin dari Buku ‘Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati’ karya Ahmad Rifa’i Rif’an


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: