JURNAL SANTRI UNTUK NEGERI

Jendela Dunia

Transformasi Sang Elang

pada Mei 12, 2016

 

Hanya orang yang berani gagal total yang akan meraih kebahagiaan total.

John F Kennedy

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya bahkan bisa nyampe 70 tahun. Tetapi untuk merasakan umur yang sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40-tahun.

Jarang yang tahu, ketika elang sudah berumur 40 tahun, ternyata cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya juga demikian, menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh menjadi lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan elang ketika terbang. Nah, pada saat itu elang hanya mempunyai dua pilihan. Pilihan pertama, ia pasrah dengan keadaan dan kelemahannya itu. Pilihan kedua, ia berjuang untuk melalui suatu proses tranformasi yang sangat menyakitkan 150 hari. Pilihan pertama tentu saja risikonya ia akan menjadi makhluk lemah yang hidupnya tinggal menuju kematian. Pilihan kedua, ia menjadi makhluk dengan kekuatan baru, sehingga punya peluang untuk menjadi lebih kuat, lebih tangguh dan hidup lebih lama lagi.

Bagaimana elang mengalami proses transformasi itu? Sungguh penuh perjuangan. Elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak panggung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti, dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung. Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya. Ia kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Nah, dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia pun mencabut satu per satu cakarnya. Dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Sebuah proses yang panjang dan sangat menyakitkan.

Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Kini, elang mulai bisa terbang kembali. Dengan paruh, sayap, dan cakar yang baru, elang mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi. Dan sang elang itu pun kini tak lagi bernama elang. Ia lebih dikenal sebagai burung rajawali.

disalin dari Buku ‘Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati’ karya Ahmad Rifa’i Rif’an


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s