JURNAL SANTRI UNTUK NEGERI

Jendela Dunia

Hitam Putih Bulan Ramadhan

pada Mei 18, 2016

 

Kurang dari sebulan lagi, umat islam akan menyambut kedatangan tamu agung. Berbagai tulisan Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Datang di Bulan Suci Ramadhan akan segera terpampang jelas di berbagai media, mulai dari sepanduk, banner, dan iklan di berbagai media massa. Tak ketingalan pula beragam makanan dan minuman yang identik dengan ramadhan dan lebaran sudah memenuhi berbagai tempat perbelanjaan. Banyak sekali umat islam yang menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Mereka menyebutnya bulan suci sejalan dengan berbagai keistimewaan dan kemeriahan yang terjadi selama bulan Ramadhan.

ramadan-mubarak-desktop-wallpaper

Keistimewaan yang hanya terjadi di bulan ramadhan, antara lain:

  1. Nuzulul Qur’an. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Qadr : 1 yang berarti, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) di Malam Kemuliaan.”
  2. Lailatul Qadar yang masih erat hubungannya dengan Nuzulul Qur’an. Malam kemuliaan yang dimaksud dalam poin pertama adalah lailatul qadr. Dimana seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam ayat selanjutnya yang artinya, “Tahukah kamu apa itu malam kemuliaan (lailatul qadar). Malam kemuliaan lebih baik dari seribu bulan.” Berkaitan dengan betapa istimewanya malam kemuliaan tersebut, maka sudah sepatutnyalah kita mensyukurinya dengan syukur yang paling istimewa yang diwujudkan dengan meningkatkan ketekunan ibadah. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang dikisahkan oleh Sayyidah Aisyah, “Apabila telah masuk hari kesepuluh yang terakhir dari bulan Ramadhan meningkatkan kegiatan menghidupkan malam-malamnya dengan beribadah, beliau bangunkan keluarganya, dengan sungguh-sungguh dan menyingsingkan baju.” (HR. Muslim)
  3. Hanya 1 bulan dalam setahun dan merupakan satu-satunya bulan yang penetapan awal dan akhirnya mendapat perhatian masyarakat seluruh dunia, negara islam khususnya termasuk Indonesia yang menetapkannya melalui sidang isbat yang berkaitan dengan hisab dan rukyat yang keduanya merupakan cara yang digunakan untuk menetapkan awal bulan Ramadhan. Rukyat sendiri didasarkan pada hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya, “Berpuasalah kalian semua karena rukyat (melihat hilal atau bulan) kalian semua dan berbukalah karena rukyat kalian semua.”
  4. Keramaian di malam hari dengan dilakukannya shalat tarawih berjamaah dimana-mana, tadarus Al-Qur’an, kentongan saat sahur, dan juga qiyamul lail.
  5. Suasana buka puasa yang berbeda dengan makan malam biasa dengan berbagai menu hidangan yang tak beda dengan menu-menu yang disuguhkan saat makan di restoran padang.

10-malam-terakhir-ramadhan11082149_524514197614476_1906372791_o

Ada yang baik dan ada pula yang buruk. Pepatah ini berlaku juga untuk bulan Ramadhan. Dimana selain banyak sekali keistimewaan yang secara spesial terjadi di Bulan ini, terdapat pula banyak fenomena memprihatinkan yang mengiringinya. Fenomena inilah yang seharusnya mendapat perhatian khusus dari umat islam dan harus dijadikan sebagai bahan perenungan seluruh umat islam.

Fenomena-fenomena yang memprihatinkan dalam bulan Ramadhan antara lain:

  • Ajang lomba cepat membaca Qur’an. Prestasi khatam sekian kali dalam sebulan. Padahal makna tadarrus itu sendiri adalah belajar Al-Qur’an bersama beserta kandungan isinya. Tidaklah berarti khatam berkali-kali dalam sebulan jika tidak disertai dengan niat yang lurus dan semata-mata karena Allah SWT, bukan sekedar menarik perhatian orang lain.
  • Shalat tarawih tercepat. Ada yang dengan bangganya memamerkan kecepatan sholat tarawihnya, padahal bacaan surat wajib saat sholat belum dijamin kebenarannya.
  • Lomba taubat para entertainer. Tiba-tiba saja artis-artis yang biasa tampil sexy jadi menutup aurat. Alhasil, fenomena janji palsu pun merebak di kalangan artis terkait janjinya untuk bertaubat dan menutup aurat. Selain itu, grup band yang ada di Indonesia yang jumlahnya seabreg juga gak mau kalah. Mereka menciptakan lagu-lagu religi yang berakhir dengan selesainya pula bulan Ramadhan. Intinya, mereka benar-benar memaksimalkan kesempatan dalam kesempitan dan meraup keuntungan sebesar-besarnya.
  • Fenomena ustadz dadakan. Banyak sekali ustadz-ustadz misterius yang tiba-tiba saja bermunculan di berbagai tempat. Mengapa misterius? Karena kemunculan mereka secara tiba-tiba dan akan menghilang dari peredaran tayangan Televisi seiring berakhirnya bulan Ramadhan. Ada 3 tingkatan ustadz dalam ajaran islam, mulai dari yang paling bawah yaitu muballigh, da’i dan ‘ulama. Ustadz misterius tersebut masuk dalam kategori yang paling rendah yaitu muballigh, dimana mereka hanya menyampaikan pengetahuan mereka tentang agama islam dan jarang mengamalkannya dengan kata lain mereka adalah orang-orang yang ahli dalam hal public speaking dan nol dalam pengamalannya.
  • Program-program televisi dikemas dalam tayangan islami yang justru menggeser kegiatan tadarus Al-Qur’an.
  • Kejar omset dan jam kerja demi gengsi dan jaga image saat lebaran yang menomorsekiankan Sholat. Banyak sekali umat islam yang justru mendewakan pekerjaannya pada saat bulan Ramadhan. Hal ini terbukti dengan fenomena jam lembur yang padat tiap malamnya saat tiba bulan Ramadhan.
  • Iklan makanan yang menarik dan menggoda iman serta barang-barang bagus yang membangkitkan sifat konsumtif manusia. Semua barang dibeli. Semua makanan dicoba. Ganti HP, motor, mobil, baju, dan sebagainya.
  • Acara BUKBER berbagai kelas dan kasta, mulai dari keluarga, teman, kolega, SD, SMP, SMA, mahasiswa, dan lain-lain. Potret yang memprihatinkan dari acara ini adalah miskinnya makna ramadhan itu sendiri. Bisa kita lihat, setelah bukber di tempat-tempat favorit mereka, tidak sedikit dari mereka yang mengesampingkan sholat dengan dalih “Kamu aja yang duluan, aku nanti aja, mushola nya masih ramai…” yang ujungnya sampai waktu maghrib habis pun mereka tidak menjalankan ibadah sholat maghrib dan tak jarang pula setelah itu mereka jalan-jalan kemana saja yang akhirnya juga meninggalkan sholat isya dan tarawih serta tadarrus.

 

Jika sudah demikian yang terjadi, apabila dalam ibadah ritual saja, ego yang menang, lalu bagaimana dengan ibadah sosial? Wallahu A’lam… semoga kita semua tidak termasuk golongan yang mengesampingkan amaliyan di Bulan Ramadhan dan bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s